Nafsu, Akan Kau Bawa Kemana aku?

“Manusia yang menggunakan akalnya dengan baik dan dapat mengendalikan nafsunya, maka dia akan mendapat derajat lebih tinggi dari malaikat”

Dalam tubuh manusia terdapat dua hal yang memiliki sifat berlawanan, yakni akal dan nafsu. Hal inilah yang membuat manusia bebeda dengan makhluk Allah yang lain, seperti malaikat yang hanya diberi akal saja dan hewan yang hanya diberi nafsu. Manusia yang menggunakan akalnya dengan baik dan dapat mengendalikan nafsunya, maka dia akan mendapat derajat lebih tinggi dari malaikat. Sebaliknya, manusia yang hanya mengandalkan nafsunya dan tidak menggunakan akalnya, maka ia tak ada bedanya dengan hewan bahkan bisa lebih hina.

Nafsu jahat merupakan musuh paling mengancam yang dihadapi orang mukmin dalam perjalanan menuju sang kholik. Ada dua alasan mengapa nafsu begitu mengancam. Pertama dia musuh dalam rumah. Pencuri yang berasal dari keluarga kita sendiri jauh lebih mengancam dari pencuri lain. karena ia tahu persis seluk beluk rumah dan waktu para penghuninya tidur atau lengah. Kedua, dia dicintai manusia, cinta pada nafsu sudah menjadi watak manusia. Dan suatu yang dicintai cenderung membuat pecintanya kurang peka terhadap kesalahan, keterbatasan dan kejelekan.

Baca juga: Memperteguh Harapan Kepada Allah

Dalam al-Quran di jelaskan bahwa secara dzatiahnya, nafsu selalu mengarahkan kita pada kejelekan: “Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong pada kejahatan, kecuali nafsu yang di beri rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha pengampun lagi Maha penyayang” (QS Yusuf; 53).

Mari kita renungi ungkapan berikut “kepekaan manusia ini lemah, ia lebih peka terhadap kotoran orang lain dibandingkan kotorannya sendiri, termasuk kotoran Batin atau Rohani”, Begitulah kiranya perkataan Imam Alawi al-Haddad.

Maksudnya orang takkan jijik membersihkan kotorannya  sendiri. Selesai membersihkan, cuci tangan, beres!. Tak ada masalah tidak ada perasaan jijik. Beda halnya kalau membersihkan kotoran orang lain. Begitu juga kotoran nafsu, ketika kotoran ini berkenaan dengan nafsunya sendiri, manusia tidak akan jijik, baru jika berkenaan dengan orang lain, nafsu ini jadi tampak buruk dan menjijikkan.

Karena mencintai nafsu, sangat mudah membaca aib orang lain dan sangat jijik melihat keburukan orang lain. Namun jika aib itu berkenaan dengan kita sendiri, kita malah menyangkal bahwa itu aib, kita tidak merasa apa yang kita kerjakan itu buruk. Itulah nafsu, pencuri dalam rumah, tetapi dicintai oleh sang pemilik Rumah.

Baca juga: Mengubah Suratan Takdir, Mungkinkah?

Oleh karena itu kita jangan selalu mengikuti kemauan nafsu kita, kita harus memeranginya, berjihad melawan nafsu kita. Salah satu cara jihad yang ampuh untuk melawan nafsu, adalah dengan mengurangi hal-hal mubah secara bertahap. Seperti tidak makan berlebihan dan senantiasa lapar. Karena ketika seorang mukmin terbiasa dengan rasa lapar, maka akan menjauhkan dari sifat kemunafikan dan memperkuat untuk melawan syahwat. Caranya dengan mengurangi porsi makan secara bertahap. Jika nafsu biasa kenyang dengan 20 kali suapan, cukuplah 18 suapan, setelah itu kurangi menjadi 16 dan seterusnya. Jangan lakukan sekaligus sehingga menyebabkan nafsu kita tidak mau tunduk sama sekali.

Dalam kasidah burdah karya Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Bushiri termaktub: “Nafsu itu seperti anak kecil, jika dibiarkan akan menetek sampai besar. Namun jika disapih maka ia akan berhenti”. Dari kutipan syair ini dapat kita pahami bahwa apabila seseorang tidak melatih dirinya sejak dini untuk mengendalikan nafsu, maka nafsu yang akan terus mengendalikannya dan dia terus mengumbar syahwatnya walaupun sudah pada jenjang tua.

_________

Oleh: Kanzul Hikam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: