Merayakan Tahun Baru 2021

Dalam Islam, kita hanya mengenal dua hari raya, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Selainnya tidak ada pensyariatan dalam Islam untuk merayakannya. Di samping itu, Islam mengajarkan kita untuk senantiasa  bersikap optimis, bukan pesimis atau putus asa. Maka tidak salah jika kita sambut pergantian tahun ini dengan gembira dan bahagia, karena pada tahun yang baru ini banyak peluang, kesempatan, kemungkinan, dan harapan baru terbuka.

Terkait bagaimana hukumnya jika kita ikut merayakan dan memeriahkan tahun baru masehi, jawabannya beragam. Yang jelas, ulama telah sepakat mengharamkan seorang muslim untuk ikut merayakan perayaan agama tertentu. Maka seorang muslim haram mengikuti ritual agama selain Islam, termasuk merayakannya. 

Dalam konteks ini, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه … وإن بلي الرجل بذلك فتعاطاه دفعا لشر يتوقعه منهم فمشى إليهم ولم يقل إلا خيرا ودعا لهم بالتوفيق والتسديد فلا بأس بذلك وبالله التوفيق. (ابن قيم الجوزية، أحكام أهل الذمة 1/442).

“Adapun ucapan selamat dengan simbol-simbol yang khusus dengan kekufuran maka adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama, seperti mengucapkan selamat kepada kafir dzimmi dengan Hari Raya dan puasa mereka. Misalnya ia mengatakan, Hari Raya berkah buat Anda, atau Anda selamat dengan Hari Raya ini dan sesamanya. Ini jika yang mengucapkan selamat dari kekufuran, maka termasuk perbuatan haram. Ucapan tersebut sama dengan ucapan selamat dengan bersujud kepada salib. Bahkan demikian ini lebih agung dosanya menurut Allah dan lebih dimurkai daripada ucapan selamat atas minum khamr, membunuh seseorang, perbuatan zina yang haram dan sesamanya… Apabila seseorang memang diuji dengan demikian, lalu melakukannya agar terhindar dari keburukan yang dikhawatirkan dari mereka, lalu ia datang kepada mereka dan tidak mengucapkan kecuali kata-kata baik dan mendoakan mereka agar memperoleh taufiq dan jalan benar, maka hal itu tidak lah apa-apa.” (Ibnu Qayyimil Jauziyyah, Ahkam Ahl al-Dzimmah, juz 1 hal. 442).

Baca juga: Sikap Tepat Hadapi Virus Corona

Merayakan tahun baru masehi menyerupai perbuatan orang kafir

Kembali ke pembahasan perayaan tahun baru masehi, sebagian kalangan mengaitkan perayaan tahun baru masehi dengan kegiatan bangsa-bangsa non-muslim. Dalam hal ini mereka mengajukan dalil pelarangan tasyabbuh bil kuffar (menyerupai orang kafir), karena menganggap perbuata merayakan tahun baru masehi menyerupai perbuatan orang kafir.

Dalil larangan tasyabbuh bil kuffar yang dimaksud adalah sabda Rasullah:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang menyerupa suatu kaum, maka dia termasuk di antara mereka.” (HR Abu Daud)

Larangan menyerupai di sini bersifat mutlak, tanpa meninjau hal tersebut termasuk ritual ibadah atau hanya sekedar budaya.

Di samping itu, juga ada sebagian kalangan yang secara tegas memberikan batasan. Yang dimaksud menyerupai orang kafir adalah hanya dalam hal-hal yang memang terkait dengan ritual agama saja. Sedangkan pada hal-hal lain yang tidak terkait dengan ritual agama, maka tidak ada larangan.

Misalnya dalam perayaan tahun baru masehi ini, menurut mereka umumnya orang tidak mengaitkan perayaan tahun baru dengan ritual agama. Di berbagai belahan dunia, orang-orang melakukannya bahkan diiringi dengan pesta dan lainnya. Tetapi bukan di dalam rumah ibadah, juga bukan perayaan agama.

Dengan demikian, pada dasarnya tidak salah bila bangsa itu merayakannya, meski mereka memeluk agama Islam.

Namun lepas dari dua perbedaan pendapat ini, setidaknya bagi kita, sebagai umat Islam yang bukan orang Barat, perlu mengevaluasi dan berkaca diri terhadap perayaan malam tahun baru. Banyak hal yang harus kita pertimbangkan terlebih dahulu sebelum merayakannya, di antaranya perayaan malam tahun baru tidak ada tuntunannya dari Rasulullah SAW. Kalau pun dikerjakan tidak ada pahalanya, bahkan sebagian ulama mengatakannya sebagai bid’ah dan peniruan terhadap orang kafir.

Baca juga: Mengubah Suratan Takdir, Mungkinkah?

Jugatidak ada keuntungan apapun bagi kita jika melakukan perayaan itu. Umumnya hanya sekedar latah dan ikut-ikutan, terutama bagi kita bangsa timur yang sedang mengalami degradasi pengaruh pola hidup western. Bahkan seringkali malah sekedar pesta yang membuang-buang harta secara percuma.

Kanzul Hikam/Yassir Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: