Kritik Terhadap Paham Rasionalisme

Rasionalisme adalah doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan atau didapatkan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta. Secara etimologis, Rasionalisme berasal dari kata bahasa Inggris, Rationalism. Berasal dari akar kata ratio yang berarti akal. Secara terminologis, aliran ini dipandang sebagai aliran yang berpegang pada prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam penjelasan. Menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan dan terlepas sekaligus bebas dari pengalaman inderawi.

Paham rasionalis ini telah lama muncul dalam sejarah Islam. Muktazilah adalah madzhab teologi paling rasional dalam sejarah klalsik Islam. Kaum Muktazilah telah membawa rasionalitas demikian jauh dengan menyejajarkan kemampuan akal dengan wahyu dalam menemukan kebenaran agama.

Namun, serasionalisnya Muktazilah, mereka masih merujuk kepada al-Quran dan sunah Nabi SAW. Berbeda dengan rasionalisme yang muncul dari Barat pada abad ke-17 ataupun ke-18. Rasionalisme Barat menyatakan kebenaran harus ditentukan melalui akal atau logika saja, tanpa didasari dan ditopang ajaran agama. Jelas, rasionalisme Barat ini lebih bebas berekspresi daripada rasionalisme Muktazilah. Bahkan peran akal menurut mereka hampir sama dengan wahyu, untuk menetapkan kebenaran.

Oleh karena itu, ada sebagian paham Liberalisme yang sudah sampai pada taraf pengingkaran terhadap mukjizat (hal menakjubkan yang keluar dari batas kewajaran—خارق للعادة—), karena menurut mereka, kejadian-kejadian tidak biasa yang dialami oleh para nabi tersebut hampir tidak bisa dinalar secara ilmiah.

Baca juga: Legalitas Mempelajari Ilmu Kalam

Dalam Islam, akal bukan disejajarkan dengan naql, melainkan digunakan untuk memahami naql. Wahyu adalah sumber kebenaran dan tuntunan hidup. Wahyu hanya bisa dipahami dengan akal, dan wahyu mengafirmasi, menegaskan, dan menjelaskan kebenaran yang didapat dari olah akal. Oleh karenanya, ketika ada nash agama yang bertentangan dengan akal, maka akal tidak boleh dimenangkan, karena kaedahnya adalah “taqdimun-nas ‘alal-aqli”

Hal ini karena kemampuan akal terbatas. Banyak hal yang tidak dapat diketahui hanya dengan akal. Akal memiliki batas, di mana setiap hal yang tidak pernah disaksikan akal, maka akal tidak bisa menetapkan ketidaannya atau keberadaannya[1]. Dengan kata lain, akal hanya bisa menetapkan apa yang pernah disaksikannya. Ketika akal tidak mengetahui sesuatu hal, bukan berarti hal itu tidak benar. Ketidakbenaran sesuatu bisa ditetapkan jika ada dalil pasti tentang ketidakbenarannya.

Jadi, pengingkaran Liberal terhadap kebenaran mukjizat dengan alasan tidak dapat dijangkau oleh akal adalah kesalahan besar. Sebab saat akal tidak bisa memahami hal-ihwal wujudnya sesuatu. Atau belum pernah melihat sesuatu itu dan belum pernah mengetahui tentang keberadaannya. Maka akal menganggap asing keberadaan sesuatu itu, lantas mengatakan, “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

Bayangkan bagaimana ekspresi orang-orang yang hidup sebelum adanya pesawat ketika dikabarkan tentang perjalanan yang begitu cepat. Mereka menganggap hal itu mustahil terjadi ketika itu. Tapi sekarang kita menyaksikan pesawat bisa mengantarkan kita menuju Makkah yang dulunya ditempuh selama berbula-bulan hanya dalam waktu 8 jam.

Pada intinya, setiap hal yang belum pernah dialami oleh akal adalah perkara mungkin yang tidak bisa ditetapkan oleh akal akan kewajibannya atau kemustahilannya. Akal menilai hal mungkin ini dengan setara, masih mungkin wajib tejadi, masih mungkin mustahil terjadi. Maka dalam kasus ini, dibutuhkan dalil naql yang independen untuk memastikan mana kemungkinan yang benar.

Dari sini, ketika ada hal yang mungkin secara akal, lalu ada pendukung dari dalil naql yang sahih, maka kebenarannya wajib diterima. Dan jika ada hal yang mungkin secara akal, namun disangkal oleh dalil naql yang sahih, maka ketidakbenarannya wajib ditetapkan.

Selain itu, tidak mungkin hanya berpedoman pada akal untuk membuktikan terjadinya suatu peristiwa yang mungkin. Contoh, seseorang menceritakan terjadi peperangan di zaman Rasulullah. Jika seseorang meminta dalil hanya dari akal untuk membuktikan peristiwa itu, maka itu tidak mungkin bisa dilakukan, bahkan oleh fisuf terhebat sekalipun. Tapi karena peristiwa itu dikabarkan oleh para sejarawan terpercaya dan didukung oleh bukti-bukti sejarah yang otentik, maka dengan demikian, terjadinya perang adalah peristiwa yang wajib diterima akal akan keberadaannya.

Lantas kenapa dalam peristiwa yang mungkin, akal tidak bisa memberi klaim secara independen? Jawabannya karena sarana untuk mengetahui kebenaran itu tidak melulu menggunakan akal.

Sudah masyhur bahwa sarana yang bisa menyampaikan pada kebenaran itu ada tiga: 1) Panca indera, 2) Berita yang benar, 3) Akal.[2] Masing-masing punya jobnya sendiri; ada wujud yang hanya bisa diketahui dengan masing-masing dari ketiganya. Ada pula wujud yang tidak bisa diketahui hanya oleh salah satu dari ketiganya.

Objek-objek inderawi hanya bisa diketahui denga panca indera, tidak perlu akal dan berita yang benar. Kita bisa tahu tinta warnanya hitam, tentu dengan mata. Selesai. Tidak perlu dipikir lagi dan tidak perlu referensi apapun. Tapi kalau ada yang bilang telah terjadi kecelakaan di jalan raya, maka berita ini bisa dipercaya jika diberitakan oleh sumber yang terpercaya, dan tidak ada dalil yang lebih kuat yang membatalkannya.

Jadi kesimpulannya, tidak semua hal bisa diketahui dengan akal. Bahkan akan konyol kalau ada yang berpendapat bahwa semua hal bisa diketahui dengan akal. Coba saja, jika ada berita di jalan raya terjadi kecelakaan, lalu Anda langsung bilang, “Ah, itu tidak masuk akal!” Maka apa reaksi orang-orang di sekitar Anda? Setidaknya mereka menganggap anda tidak waras! Lho, kok bisa begitu? Ya! Karena kecelakaan merupakan hal yang mungkin. Bukan hal yang wajib, bukan pula hal yang mustahil.

Moh Kanzul Hikam|Yassir Media


[1] Kawasyifuz-Zuyuf, hlm: 191

[2] Ibid, hlm: 174

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: