Ahlusunah, Kenapa Asy’ariyah dan Maturidiyah?

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa siapa itu Ahlusunah wal Jamaah. Mereka adalah pengikut imam Asy’ari dan Maturidi yang merupakan satu-satunya kelompok yang akan selamat dari kobaran api neraka, sesuai dengan kriteria yang telah dipaparkan.

Sekarang kita akan membahas kenapa Ahlusunah wal Jamaah itu identik dengan Imam Asy’ari dan Maturidi? Bukan yang lain, seperti Wahabi, Syi’ah dan aliran-aliran lainnya.

Hal itu karena imam Asy’ari dan Maturidi  mengikuti ajaran Nabi dan Sahabat, serta berpegang teguh pada al-Quran dan Hadis tanpa mengabaikan adanya pendapat para ulama baik dalam Ijma’ atau qiyas. Berbeda dengan Wahabi yang tidak menerima pendapat dari ulama selain yang sejalan dengan ideologi mereka.

Selain itu, nash-nash al-Quran dan Sunnah serta jejak para ulama salaf yang saleh dari generasi Sahabat dan Tabi’in telah membuktikan kebenaran ajaran imam Asy’ari dan imam Maturidi. Dalam hal ini, al-Imam as-Sayyid Abdullah bin Alwi al-Haddad berkata:

Baca juga: Hukum Bersholawat Al-Banjari di Gereja

Anda, apabila melihat dengan pemahaman yang lurus, dari hati yang bersih terhadap nash-nash al-Quran dan Sunnah yang mengandung keimanan, dan anda menelaah biografi kaum salaf yang saleh dari generasi Sahabat dan Tabi’in, maka anda pasti mengetahui dan membuktikan bahwa, kebenaran bersama golongan yang disebut Asy’ariyah, nisbat kepada Syekh Abu al-Hasan al-Asy’ari. Beliau telah menyusun kaidah-kaidah Ahlul-Haqq ( pengikut kebenaran) dan menulis dalil-dalilnya. Akidah tersebut adalah akidah yang disepakati oleh para Sahabat dan generasi setelahnya dari kaum terbaik Tabi’in. akidah tersebut akidah Ahlul-Haqq dalam setiap waktu dan tempat, juga akidah mayoritas Ahli Tasawwuf sebagaimana diceritakan oleh abu al-Qasim al-Qusyairi di bagian awal risalahnya. Juga dengan memuji kepada Allah, akidah kami dan akidah para pendahulu kami sejak Rasulullah hingga hari ini…. sedangkan golongan Maturidiyah sama dengan golongan Asy’ariyah dalam semua hal yang telah disebutkan.

Adapun bukti ilmiyah bahwa Asy’ariyah dan Maturidiyah selalu mengikuti ajaran Nabi dan Sahabat serta tidak melenceng dari garis sunnah adalah, mayoritas Ahli Hadis dan Ahli Tafsir 90% mengikuti madzhab Asy’ari dan Maturidi. Mereka semua sepakat jika Asy’ariyah dan Maturidiyah adalah representasi dari Ahlusunah yang telah disabdakan Rasulullah.

Dari bukti ilmiyah di atas, jelas bahwa Asy’ariyah dan Maturidiyah adalah kelompok yang telah dijamin Rasulullah akan selamat dari api neraka, sebagaimana sabda beliau:

إِنَّ أُمَّتِى لاَ تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُ اْلإِخْتِلاَفَ فَعَلَيكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظَمِ.

“Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat atas kesesatan. Jika kamu melihat suatu perbedaan, maka wajib bagimu mengikuti al-sawad al-a’zham.” (HR. Ibnu Majah dari Anas bin Malik).

Baca juga: Mengenal Ahlusunah wal Jamaah

Sedangkan nama “Ahlussunnah wal Jamaah” itu diafiliasikan pada al-Imam al-Asy’ari dan al-Imam al-Maturidi (di bidang akidah), karena kedua ulama tersebut memiliki keistimewaan dengan pemikiran dan rumusannya yang hebat, dan kepahlawanannya dalam mengalahkan kebatilan akidah-akidah yang diciptakan oleh kelompok-kelompok menyimpang, sehingga seluruh ulama Islam di berbagai penjuru dunia mengafiliasikan diri mereka pada keduanya – meski tentu al-Imam al-Asy’ari lebih banyak pengikutnya ketimbang al-Imam al-Maturidi. Itulah sebabnya kenapa para ulama mengatakan: jika nama “Ahlussunnah wal Jamaah” diucapkan, maka yang dimaksud adalah pengikut ajaran Asya’irah dan al-Maturidiyah.

Baca juga: Catatan Kelam Sekte Wahabi

Namun demikian, meskipun istilah Ahlusunah wal Jamaah dinisbatkan kepada imam Asy’ari dan Maturidi, sebenarnya para imam Ahlusunah wal Jamaah di bidang akidah atau kalam telah ada sejak zaman sahabat Nabi. Imam Ahlusunah wal Jamaah di zaman itu adalah Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yang berjasa membendung pendapat Khawarij tentang al-wa’d wa al-wa’îd (janji dan ancaman) dan membendung pendapat Qadariyah tentang kehendak Tuhan (masyî’ah) dan daya manusia (istithâ’ah) serta kebebasan berkehendak dan kebebasan berbuat. Selain Sayyidina Ali bin Abi Thalib, ada juga sahabat Abdullah ibn Amr, yang menolak pendapat kebebasan berkehendak manusia dari Ma’bad al-Juhani.

Artinya, paham akidah Ahlusunah wal Jamaah ini bukan sepenuhnya akidah yang dicetuskan Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi. Yang dilakukan oleh Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur al-Maturidi adalah menyusun doktrin paham akidah Ahlusunah wal Jamaah secara sistematis, sehingga menjadi pedoman atau mazhab umat Islam, sesuai dengan kehadirannya sebagai reaksi terhadap munculnya paham-paham yang ada pada zaman itu.

Bagaimana dengan penganut ajaran Salafi Wahabi. Bukankah mereka dengan lantang menyerukan bahwa mereka adalah Ahlusunah wal Jamaah dengan jargon mereka “Kembali ke al-Quran dan Hadis”. Jelas bukan, Mereka memang menggunakan al-Quran dan Hadis, tapi mereka menolak adanya Ijma’ Ulama dan Qiyas. Berbeda dengan Ahlussunnah yang menjadikan keduanya sebagai landasan pemgambilan hukum. Pemahaman mereka terhadap al-Quran dan Hadis pun hanya terbatas pada teks dzahir, serta menolak adanya penakwilan yang diterapkan oleh para ulama. Sehingga mereka cenderung mengkafirkan setiap kelompok yang tidak sejalan dengan pemikiran mereka.

Selain itu, ajaran Islam bukanlah sebuah ajaran yang dipahami oleh sebagian kelompok minoritas. Ahlusunah wal Jamaah adalah kelompok yang oleh Rasulullah telah dijamin bahwa para pengikutnya tidak akan tersesat, karena mereka adalah kelompok mayoritas. Sebagaimana hadis yang dipaparkan di atas.

Baca juga: Membedah Trilogi Tauhid Wahabi

Tidak dapat dipungkiri bahwa Islam saat ini, yang terbesar dianut oleh dunia adalah Ahlusunnah wal Jamaah, yang secara akidah bermadzhab kepada Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi, juga di bidang fikih bermadzhab kepada salah satu dari 4 madzhab, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Ahmad bin Hanbal. Ini adalah kelompok terbesar (al-Sawad al-A’dzam) dalam Islam sejak masa ulama Salaf ribuan tahun yang lalu. Bukan sebagian kecil kelompok yang secara lantang mengatakan “Kita kembali ke Quran dan Hadis”, atau “Kita salat seperti Rasulullah, bukan menurut Imam Syafi’i” dan slogan-slogan lainnya.

Sampai disini, kiranya sudah jelas, siapa itu Ahlusunah wal Jamaah. Mereka adalah pengikut imam Asy’ari dan Maturidi dan satu-satunya kelompok yang akan selamat dari kobaran api neraka, sesuai dengan kriteria yang telah dipaparkan di atas.

Mengenai Ijma’ Ulama dan Qiyas yang ditolak oleh Wahabi, sebenarnya adalah bersumber dari ayat al-Quran:

أَطِيعُواْ الله وَأَطِيعُواْ الرسول وَأُوْلِى الأمر مِنْكُمْ  فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِى شَىْء فَرُدُّوهُ إِلَى الله والرسول

                “Patuhilah Allah dan Rasulullah dan Ulil Amri, Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya) (QS. An-Nisa: 59)

Imam Muhammad Fakhruddin ar-Razi dalam adikaryanya, Tafsîr al-Fakhr ar-Râzî al-Musytahir bit-Tafsîr al-Kabîr wa Mafâtihil-Ghaib menjelaskan bahwa firman Allah “Athi’ullâha wa Athi’urrasûl” menunjukkan terhadap kewajiban mengikuti al-Quran dan Sunnah. Sedangkan firman Allah “Wa Ulil-Amri Minkum” mengisyarahkan bahwa Ijma’ ulama adalah sebuah hujjah. Dan firman Allah “Fain-tanâza’tum fî syaiin faruddûhu ilallâhi warrasûl” menjadi indikasi bagi kita bahwa Qiyas juga merupakan Hujjah. Wallahu A’lam bish-Shawab.

____

Oleh: Moh. Kanzul Hikam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: