Bahaya Hasud

Dikisahkan pada kita, tentang Qabil dan Habil yang sama-sama berkurban, Habil dengan kurban terbaiknya diterima Allah, sedang Qabil kurbannya tidak diterima oleh Allah.

Sampai di sini mungkin hanya kisah biasa. Mengetahui hal itu, Qabil tidak terima, dia bersumpah “Aku akan membunuhmu!”. Dari sini mulai ada sedikit kejanggalan, kenapa Qabil malah ingin membunuh Habil. Seharusnya Qabil berfikir, kenapa kurban Habil diterima, sedangkan kurban miliknya tidak diterima? Apa yang salah dari kurban yang dipersembahkan sehingga tidak diterima. Terlebih yang menerima kurban adalah Allah, harusnya Qabil marah ke Allah, karena kurbannya tidak diterima. Tapi Qabil malah ingin membunuh saudaranya yang diterima kurbannya. Itulah ‘hasud’. Ngeri banget kan!

Hasud itu bukan tentang pencapaian diri kita, bukan tentang kenikmatan diri kita, juga bukan tentang apa yang kita dapatkan. Hasud itu selalu tentang orang lain.

Hasud itu dimulai ketika hatinya terbakar saat melihat orang lain bisa mendapatkan sesuatu, tidak cukup di situ, dia bahkan menginginkan hal yang orang lain dapatkan itu hilang, itu kepuasannya.

Baca juga: Nafsu, Akan Kau Bawa Kemana aku?

Orang dapat, dia juga dapat. Itu tidak cukup bagi orang yang hasud. Karena tujuannya memang bukan mendapatkan kenikmatan, melainkan melihat kenikmatan orang lain hilang.

Perilaku hasud ini digambarkan Nabi sebagai perbuatan yang menghancurkan kebaikan. Beliau bersabda:

الحسد یأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب

“Hasud itu menghapus kebaikan bagai api menghanguskan kayu”.

Oleh karenanya, Nabi memberi peringatan pada umatnya agar menghindari sifat dan perilaku ini. Beliau bersabda :

لا تحاسدوا ولا تقاطعوا ولا تباغضوا ولا تدابروا وكونوا عباد الله إخوانا

“Janganlah kalian saling mendengki, jangan saling memutus hubungan persahabatan, jangan saling membenci dan jangan saling
memalingkan muka. Jadilah kalian orang-orang yang bersaudara”. Rasulullah juga bersabda:

قال رسول الله ـ َصلَّى الله علیه و َسلَّم : لا یزال الناس بخیر ما لم یتحاسدوا

“Manusia itu selalu baik selama dia tidak saling mendengki”.

Dari sini, seharusnya, orang yang takut kepada Allah, ketika melihat saudaranya yang amalnya lebih bagus, dia berfikir: “Gimana caranya agar bisa seperti itu?”, atau minimal istighfar karena belum bisa seperti itu.

Oleh karena itu orang hasud itu tidak perlu ditanggapi. Dinasihati dia meradang, dibagi nikmat dia merasa diremehkan, dibaikin dia malah tambah panas, dimaki dia makin besar hasudnya.

Maka apa jawaban Habil ketika diancam Qabil? Dia bilang “Kalau kamu lakukan itu, aku takkan membalas dengan yang sama”. Sederhananya: “Aku nggak mau ikut permainanmu bro”. Lalu pamungkasnya Habil berkata: “Aku takut pada Allah”. Keren banget kan. Inilah lawannya hasud, dzikrullah, mengingat Allah.

Hidup itu hanya usaha kita untuk di-notif oleh Allah, di-mention oleh penduduk langit, dan jika beruntung kita di verified jadi hamba-Nya. Caranya dengan follow orang-orang salih dan selalu posting amal-amal baik.

Akhiran, tidak akan ada hal baik yang bisa dilihat oleh orang hasud. Jadi berhentilah berharap dan melayani model orang seperti itu. Sisakan satu saja perasaan kita pada orang hasud: kasihan.

____

Oleh: Kanzul Hikam

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *