Surat Kecil untuk Sahabat

Oleh: Alaek Mukhyiddin al-Bakhroini*

Aku dan Mita sudah kenal dekat sejak kecil. Kemanapun kami selalu bersama. Bisa dibilang kami tak bisa terpisahkan. Dimana ada Mita di situ juga ada aku, begitu pun sebaliknya. Aku tak pernah membiarkan temanku sedih. Aku hanya ingin membahagiakannya, dimana pun dia berada. Bahkan orang tuaku dan orang tua Mita sangat senang dengan keakraban kami. Sebelum wafat akibat kecelakaan Ayah dan Ibu Mita selalu baik padaku.

***

Barangkali aku adalah seorang sahabat yang penuh tinta dosa bagimu. Seorang sahabat yang lebih mementingkan ego sendiri hanya untuk menyempurnakan kebahagiaan pribadi, tanpa sadar menyebabkan hilangnya kebahagiaan lebih besar. Mungkin bagi mereka yang sering nonton acara teater akan berdecak kagum pada drama yang menimpa hidupku. Di mana aku terlalu mencintai seseorang, hingga terlalu cepat orang yang sayang padaku hilang dalam sekejap-sahabat. Aku terlalu naif untuk menjalani masa berbagi antara mencintai dan dicintai. Bagiku dua kata itu sangat rentan, hingga aku mencampakkan orang  yang tak samasekali ku rasakan getaran cintanya. Berbeda dengan kekasih hati yang ku cintai dengan segenap waktu dan fikiran. Aku buta pada seorang sahabat. Bagiku ia hanya pendamping sampingan yang hanya ada pada waktu tertentu. Dan itu salah. Karena aku dapat merasakan kasih sayang yang abadi dalam hati. Walaupun pada akhirnya yang bertahta adalah seorang lelaki.

***

12 February 2000

“Dia itu lelaki bajingan Sinta, aku pernah melihatnya malam minggu ia menggandeng perempuan di alun-alun batu,” cetusmu dengan ekspresi mata yang meyakinkan. Seperti anak kecil yang ingin membeli mainan.

Ketika itu aku teralu egois. Dan aku jadi menbencimu karena kamu menuduh seseorang yang memberiku kenyamanan berada di sampingnya. Menurutku kamu seorang pendengar yang baik. Seorang pendengar yang mengalirkan buliran kata mutiara saat aku berada dalam kubangan resah. Namun kamu bukan seorang pembicara yang demokratis.

“Mita, kau tidak perlu risau. Aku sudah dewasa dan sudah bisa mensauhkan cinta di tempat yang tepat” jawabku.

Kamu mendengus kesal. Barang kali kamu sudah kehabisan akal untuk meyakinkanku bahwa ciko adalah lelaki serampangan. Dan dari matamu bisa kutangkap rasa sedih yang menjelma rasa khawatir yang tinggi. Hanya saja aku acuh tak acuh.

“Ciko itu….”

“ Cukup. Aku tidak ingin dengar apa-apa lagi darimu” .

Maaf, aku terlalu kasar memotong kata-katamu dengan nada meninggi dan membiarkan bibir manismu mengatup lesu karena tusukan sembilu yang baru saja kulontarkan.

***

Semua rasa bahagia menyeruak silih berganti. Ciko memang sosok lelaki yang sempurna di mataku. Dengan penampilan tinggi semampai bak pohon beringin yang selalu memberi kesejukan pada orang yang berteduh di bawahnya. Di tambah sifat romantisnnya yang memekarkan hati yang layu. Sudah dua bulan aku menjalin hubungan dengannya. Setiap senja pula aku melewatkan sore dengannya di tepi pantai hanya untuk menikmati indahnya senja. Hubunganku dengannya kian erat bagaikan hilir sungai yang mengalir dengan tenang meski sesekali ada penghalang yang kuumpamakan seperti dirimu yang mencoba memisahkanku dengannya. Tentu saja ini bukan kisah memadu kasih dengan kekasih. Semacam kisah cinta Layla-Majnun yang menjadi simbol akan pahitnya cinta atau kisah tragis Siti Nurbaya dan Hayati-Zainuddin dalam novel Tenggelamnya kapal Van Der Wijk yang penuh dilema. Tapi lebih dari itu.

Sebuah kisah yang diseeting olehTuhan maha adil. Yang memetamorfosis menjadi tragedi, sehingga menyebabkan orang yang menyayangiku dengan tulus lenyap dari bumi. Tragedi yang memutar kehidupanku 180 derajat. Dari bahagia tenggelam dalam tumpukan nestapa.

***

16 Desember 2001. Ada rasa lain dalam tubuhku ketika kicauan burung gereja menembus dinding-dinding kamarku. Rasa pening kepala. Kurasakan saraf ototku menegang. Buat kakiku berat untuk berjalan. Apalagi untuk pergi ke sekolah, yang jaraknya 860 meter dari rumahku. Ayah menyarankan agar aku urung untuk masuk sekolah tapi berbekal rasa semangat aku akhirnya berangkat walaupun kaki bak dipasung dengan buntelan besi. Karena buat Aku pendidikan adalah segalanya. Di sekolah Aku masih sempat mengikuti pelajaran olahraga bermain Volley. Dan ketika aku bermain volley hidungku mengeluarkan darah segar dan beberapa detik kemudian aku tergeletak tak sadarkan diri. Seketika pengurus UKS ( Unit Kesehatan Sekolah ) membawaku ke rumah sakit.

Saat sadar, pertama yang kulihat adalah senyummu yang sembab oleh tangisan. Bukan ciko-pacarku. Entah kemana orang itu. Padahal aku sangat membutuhkannya.

Tiga bulan lamanya aku nimbrung di rumah sakit. kata Dokter panyakit yang kuderita sangat parah. Ginjal katanya. Sehingga aku harus komoterapy berkali-kali. Dan kuucap terima kasih untuk waktumu yang habis sebab menemaniku sekaligus menggantikan sosok Ciko yang tak pernah kulihat batang hidungnya. Padahal kekasihnya dalam keadaan tak berdaya. 

“Mita, Ciko mana yah, kok gak pernah jenguk aku” .

“Mungkin dia sibuk sin. Diakan jurusan otomotif” .

Aku bingung. Jauh hari kamu menyuruhku untuk putus dengan ciko. Entah mengapa hari itu kamu malah membelanya. Mungkin kamu ingin aku tidak tertimpa kesedihan yang berulang. Pikirku dan juga mungkin pikirmu.

Dokter Fery menjelaskan bahwa jalan satu-satunya untuk kesembuhanku hanyalah donor ginjal. Itu artinya aku memiliki peluang untuk sembuh walaupun hanya sedikit.

Aku bingung saat dua suster menyuruh agar aku duduk di kursi roda. Dan segera membawaku ke ruang operasi.

“Ada orang berhati malaikat yang rela mendonorkan ginjalnya untukmu” . kata Dr Fery seraya memakai sapu tangan karet.  Mataku memandang sekitar. Beberapa gunting dan pisau terjajar rapi di atas meja. Tak luput ku pandangi seorang perempuan berambut panjang berbaring dengan memakai masker. Seseorang yang hendak mendonorkan ginjalnya padaku. Tanpa kutahu bahwa itu adalah dirimu.

***

Aku mengerutkan dahi saat kujumpai surat biru langit di kamar rawat inapku. mataku mencari di setiap arah pengirim surat misterius itu. Dan berlalu menuju jendela membukanya dengan seribu tanda tanya.

Apa kabar Sinta? Cepat sembuh ya.

Waktu kamu baca surat ini, bisa aku pastiin kalo aku udah nggak ada di sisi kamu lagi.

Maaf Sinta, aku pergi tanpa bilang langsung pada kamu.  aku pamitan cuman dengan surat ini. Hidupku udah berakhir Sin, Kuatin diri yaa. Maaf aku nggak bisa lebih lama lagi melihat sahabatku sakit-sakitan.

Maaf juga ya, aku nggak pernah cerita apa pun tentang penyakitku. Satu bulan lalu aku  terinfeksi penyakit Rabdomiosarkoma atau kanker jaringan lunak! aku diem karena aku nggak mau bikin kamu sedih Sin. Aku pengen kamu ngeliat aku sebagai sahabat yang kuat, semangat, dan sehat. Aku sadar bahwa aku tidak akan lama lagi di dunia ini. Aku ingin sebelum mangkat bisa bermanfaat bagi orang lain. Dan aku melihat peluang itu saat dokter Fery mengatakan bahwa kamu butuh donor ginjal.

Dari dulu sebenernya ada satu hal yang mau aku omongin sama kamu. Aku ingin kamu menganggapku sebagai sahabat yang baik. Dan maafkan aku tentang masalah Ciko.

Mita Savira Salsabila.

Kugenggam kian erat surat yang basah dengan buliran air mata itu. Kubuang wajahku menatap taman yang ditumbuhi bunga melati di pinggirannya. Menyesali takdir yang baru terjadi. Sementara sepasang remaja berpeluk mesra di bawah pancuran taman. Saat melepas pelukannya. Sorot mataku tak mau lepas memandang lekat pria berwajah kuning langsat itu. Dengan kucuran airmata aku harus mengakui bahwa itu adalah Ciko. Kini lengkaplah derita yang merongrong kebahagiaanku. Terima kasih sahabat. Terimakasih atas semuanya.

*Penulis merupakan Jurnalis aktif santri sidogiri

Baca juga: Wanita Dalam Gerbong Kereta

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *