Wanita Dalam Gerbong Kereta

Oleh: Alaek Mukhyiddin al-Bakhroini*

“Bruak.” Bunyi pohon jatuh menimpa gundukan besar akibat ditebang para pencuri perhutanan. Aneh! Tebangan pohon itu menembus gundukan sehingga menyisakan lubang yang menganga. Isinya bukan tanah, melainkan besi besar yang mencorong lurus. Timbul beraneka macam pertanyaan dalam  masing-masing benak mereka. Benda apa itu?

“Mungkin sebuah terowongan.” Ujar jarot yang merupakan ketua dari enam pencuri itu. Jarot mengajak anak buahnya untuk menelisik apa sebenarnya benda besar yang terpampang di depan kelopak mata mereka. Setelah tepat berada dimulut lubang itu mereka mengambil kesimpulan bahwa itu adalah bekas gerbong kereta yang tertimbun tanah. Tercium bau anyir yang menusuk hidung. Semacam bau bangkai mayat yang tak dikubur bertahun-tahun. Sambil menutup hidung mereka dengan sapu tangan, mereka menerobos gelapnya ruangan. Tidak ada sesuatupun yang mereka temukan kecuali tumpukan tulang belulang berserakan. Tunggu! Sepertinya mereka mendengar suara rintihan atau gumaman seseorang. Entahlah!. Di bawah sergapan bau yang amat sangat, mereka mencoba membelalak mencari asal-muasal suara. Tampak di sudut ruangan seseorang perempuan memeluk lututnya, berambut panjang tak karuan. Jarot dengan dibantu anak buahnya langsung membopong perempuan lunglai itu keluar gerbong. Dari wajahnya yang kusut dan penuh goresan luka tampak kecantikan yang membekas tersisa. Gaun putihnya sudah berganti coklat karena berlumuran tanah. Anehnya mulut perempuan itu komat-kamit tiada henti melafalkan sesuatu. Jarot beserta anak buahnya bingung, siapa sebenarnya perempuan ini? Mengapa ada di dalam gerbong kereta api?

***

    Sepuluh Tahun Yang Lalu

Hari itu suasana sangat mencekam karena tentara Jepang sedang memburu para perempuan perawan untuk dijadikan jugun ianfu (semacam budak sek). Banyak orang tua yang melarang anak perempuannya untuk keluar kamar apalagi rumah. Namun tentara jepang tak kehilangan akal. mereka menggedor dan mendobrak setiap rumah untuk dirampas anak wanitanya. Ketika itu Sarah masih berumur lima belas tahun. Sebuah usia yang seharusnya dilalui dengan hiruk pikuk kebahagiaan, tapi malapetaka menimpanya! Karena memiliki wajah cantik, akhirnya Sarah dirampas dari tangan kedua orang tuanya yang tak bisa berbuat apa-apa. Tangisan histeris dari Sarah tak mampu membendung tangan jalang menyeretnya secara paksa. Sarah pun dikumpulkan di sebuah gedung khusus bersama perempuan yang lain. Sebuah gedung yang menjadi saksi rintihan tangisan setiap hari. Para perempuan di sana selalu di hantui bayang-bayang kengerian. Setiap dari mereka disuruh menunggu giliran sampai ada tentara yang melabuhkan hasrat binatangnya di dalam rahim mereka, tak terkecuali Sarah. Setiap waktu Sarah berfikir bagaimana caranya agar terlepas dari nafsu bejad tentara bengis itu. Dia berkomitmen akan melakukan apa saja yang penting rahimnya tak tertetes kenistaan. Sampai suatu waktu tertangkap oleh satu-satunya cendela yang ada di bangunan itu.

“Mungkin dengan cara ini aku dapat selamat dari cengkeraman tentara itu.“ Gumamnya dengan senyum simpul yang terpatri di bibir manisnya. Nampaknya Sarah akan melakukan aksi nekad itu di tengah malam. Di saat semua orang terlelap kelelahan!

Tengah malam terdengar jeritan Sarah yang membuat semua penghuni terbangun dari tidur. Tentara yang berjaga dibuat penasaran dengan asal muasal suara itu. Semua mata tertuju pada halaman lantai satu. Tempat Sarah tergeletak tak berdaya dengan kaki patah. Dalam benak mereka berseliweran tanda tanya. Apa yang yang terjadi dengan wanita yang tak berdaya itu? Sarah digotong dan diperiksa di ruangan lain. Barulah mereka semua tahu bahwa Sarah mencoba lari dengan meloncat dari lantai atas. Aksinya itu membuat kemarahan mereka meledak dan mengancam Sarah untuk dibinasakan secepatnya. Sarah diseret ke sel penjara bawah tanah yang gelap nan pengap. Kini penderitaan baru dimulainya kembali, tapi hatinya lega karena selamat dari jangkauan tangan jalang para tentara.

***

Nampaknya atase militer jepang telah membuat skema untuk tahanan jugun ianfu (budak sex) yang tak layak pakai. Entah itu karena kemaluannya sudah lecet atau wajahnya yang menua tak lagi merona, Sarah merupakan salah satu dari banyaknya wanita itu. Para wanita itu nantinya akan dikirimkan ke kota bandung, guna dipekerjakan di salah satu pabrik di sana. Nantinya mereka akan diangkut dengan gerbong kereta api yang tak jauh dari lokasi penahanan. tidak ada yang tahu bahwa akan terjadi sebuah tragedi ketika perjalanan itu. mungkin hanya tuhan saja atau salah seorang hambanya juga?. entahlah, tinggal menunggu waktu saja.

***

“Nak jangan takut. Kau tidak sendiri di dalam sel bawah tanah ini.” Ujar seorang kakek di sampingnya yang membuyarkan lamunan Sarah seketika. Sarah kaget bercampur takut melihat tampang seram. Berjengkot dan berambut lebat tak karuan. Wajah keriputnya menandakan bahwa usianya amat sangat tua. Sorot matanya tajam, menimpa tatapan Sarah yang sembab akibat air mata. Pakaian kakek itu lusuh dengan beberapa tambalan di celananya. Selangkah kakek itu mendekat, beberapa langkah Sarah menjahuinya. Tampak dimukanya yang tak menghendaki keberadaan kakek itu.

“Ah, malapetaka apalagi ini.” Gumam Sarah dalam hatinya.

“Keberadaanku di sini justru akan mendatangkan keselamatan bagimu bukan malapetaka seperti yang kau fikirkan.” Sarah dibuat bingung mengapa kakek itu tahu akan isi hatinya. Siapa kakek itu? Hantu kah? Atau jinkah? Seorang Walikah? Atau jangan-jangan!

***

Ternyata apa dugaan Sarah perihal kakek tua itu salah. Kakek itu baik, selalu membuat jiwa Sarah kokoh dalam mengarungi kehidupan yang penuh dengan cobaan. Setiap hari kakek itu menasehati cara menapaki rihlah yang benar di dunia ini. Kini Sarah menganggap kakek itu sebagai gurunya. Meskipun di sel bawah tanah. Cara shalat yang benar. Shalat malam dan semua shalat sunah diajarkannya pada Sarah.

Sarah merasakan ada hal ganjal tentang kakek itu. Betapa tidak, disaat penjaga memeriksa keadaannya tidak ada satupun dari mereka yang melihat keberadaan si kakek tua. Seakan si kakek dapat menghilang. Setidaknya di depan penjaga bukan Sarah. “Ah. Mungkin kakek itu memiliki ilmu aji yang sakti.” Terka Sarah dalam hatinya.

“Bolehkah aku tahu siapa sebenarnya engkau.” Sarahpun memberanikan diri mengentaskan rasa penasarannya itu saat duduk berhadapan dengannya di tengah sel yang gelap gulita.

“Aku akan bercerita sedikit padamu tentang kehidupan dan sepak terjangku dalam mengarungi takdir tuhan.”

***

Aku adalah satu-satunya anak seorang raja yang hidup di istana mewah bergemerlap harta. tapi sejak kecil aku anti bersuka-suka. aku benci pakai jubah kebesaran putra mahkota. aku risih dengan hidangan beraneka ragam rasa, sementara rakyat masih ada saja yang memakan nasi basi. sehingga kesehariannya aku hanya memakan roti kering dengan air tawar. aku tidak peduli dengan tanggapan petinggi kerajaan. aku tetap suka menjadi diriku sendiri. Toh, ayahku sendiri bangga dengan diriku, karena selalu tampil sederhana, namun ketangkasan tetap terjaga.  

Aku ingat saat itu bagaimana diriku disabda untuk naik tahta saat ayahku telah tiada. namun entah kenapa hatiku merasa gelisah. hatiku seakan jijik melihat kepalaku bermahkota intan permata. lantas di tengah malam yang senyap, aku menunggangi kuda melarikan diri menuju tengah hutan. di sana aku menjalani kehidupan layaknya orang yang tak punya tujuan tuk pulang.

“Entahlah nak! nampaknya aku malas melanjutkan ceritanya padamu.”   kakek tua itu mengakhiri ceritanya dengan senyum simpul yang masih menempel di bibir keriputnya.

Sarah tidak puas. ia ingin mengetahui akan kelanjutan ceritanya. pikirannya melayang, menerka-nerka apa yang bisa ia cerna.

***

Senja itu Sarah merasakan kekhawatiran tinggi karena menurut penjaga, nanti malam dirinya beserta yang lainnya akan diangkut menuju Bandung. Pasti perjalanan yang melelahkan, apalagi dirinya seorang perempuan. Belum lagi siksaan yang pasti ada-ada saja saat berada dalam gerbong kereta.

“Kau tak perlu takut. bukankah aku sudah bilang bahwa kehidupan itu tak seperti kereta api yang terus berjalan tak terhenti, tapi kehidupan itu seperti kita memancangkan layar sebuah kapal yang berjalanan di atas air yang tenang, namun paham bahwa di depan banyak aral rintangan, entah berupa ganasnya ombak lautan atau angin topan.” keluar lagi untaian kata mutiara dari kakek itu. Nasehat kakek itu membuat jiwa Sarah berkobar dengan kesemangtan dan ketabahan. Sarah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menyerah meski bukit terpumpu dipundaknya.

***

Di tengah malam yang sunyi nan mencekam. Ribuan wanita dimasukkan gerbong secara paksa. Banyak wanita yang menangis, menjerit bahkan sampai memeluk kaki tentara. tak ada kata kasihan ‘tak ada kata ibah’ mungkin itulah selogan yang tertanam dalam jiwa tentara jepang yang terus memukul dengan ujung bedil pada siapa saja yang enggan masuk gerbong kereta. nampak kakek itu memandangi tragedi penyiksaan itu di bawah pohoh beringin yang lebat, selebat jenggotnya yang basah oleh air matanya sendiri. yah, kakek itu keluar sendiri seperti ketika masuk sesuka hati.

Bagaimana dengan Sarah? nampaknya dia langsung masuk gerbong tanpa setetespun air mata yang jatuh. Hatinya kukuh, sekukuh kereta itu sendiri. Pelan-pelan Sarah mulai membuka surat yang diberikan sang kakek ketika masih salam perpisahan di sel bawah tanah:

“Perjalananmu tak akan sampai tujuan. akan ada halangan yang memberhentikan laju kereta yang kau tumpangi. tapi tenang dan jangan panik. bacalah sebuah wirid ‘hasbunallahu wa nikmal wakil’ jangan pernah berhenti melafalkannya, sebelum akhirnya kau dapat keluar dari kereta itu. dari hamba Allah: Balyan bin malkan.”

Sarah pun mulai membaca wirid itu tanpa henti. Sarah dirundung rasa penasaran, siapa sebenarnya kakek itu? Siapa Balyan bin Malkan? Mengapa kakek itu dapat mengetahui apa yang akan terjadi? Dari kebinguannya itu jelas bahwa Sarah tak mengenal sedikitpun tentang Balyan bin Malkan, padahal nama itu masyhur di kalangan para ulama dan cerita mengenai dirinya termaktub dalam al-Quran dan sejarah.

Sarah mencoba menepis jauh-jauh rasa penasaran itu. Pikirannya ia fokuskan untuk membaca wirid yang diberikan sang kakek. mulutnya tetap saja komat-kamit, meski di bawah todongan hawa panas, oksigen yang kurang, ruang yang sempit. Saat roda kereta berdenyit di kegelapan malam, tiba-tiba tempat berpijak bergetal hebat. Sambil menutup mata, Sarah membaca wirid dengan khusuknya. Dan tragedi itu benar-benar terjadi, saat adanya longsor di sebuah bukit samping kereta. Akibatnya, kereta api yang Sarah tumpangi tertindas oleh bukit yang jatuh tepat di atasnya. Kereta apipun terhenti dengan sendiri, tanda bahwa banyak tanah yang menimpa. kini tak ada lagi tangisan menyayat dari para tawanan. Yang ada hanya suara Sarah yang masih setia dengan wiridnya!

*Santri aktif Pondok Pesantren Sidogiri yang mengabdi sebagai Editor Mading Madinah (Bentengnya Ahlusunah Wal Jamaah) sekaligus Redaksi Buletin Nasyith (Bilik Baca Dan Kreasi Remaja)

Baca juga: Warna-warni Niat Puasa

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *