Warna-warni Niat Puasa

Bulan Rajab adalah bulan istimewa utamanya bagi umat Islam. Pada bulan ini banyak peristiwa brsejarah bagi umat Islam. Salah satunya adalah mukjizat Nabi Muhammad SAW, Isra Mi’raj. Peristiwa besar ini adalah perjalanan selama satu malam yang dilakukan oleh Rasulullah ke langit. Hal itu diawali dengan berangkatnya Nabi bersama Malaikat Jibril dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa pada tanggal 27 Rajab. Pada saat itu pula lah salat lima waktu diperintahkan.

Kata ‘Rajab’ sendiri memiliki makna ‘keagungan atau mulia’. Bulan Rajab juga disebut dalam al-Quran sebagai Asyhurul-Hurum atau termasuk bulan-bulan yang dihormati. Karenanya, bulan Rajab perlu diagungkan melihat adanya sejumlah keutamaan di dalamnya. Tak heran jika di bulan ini kita dianjurkan melakukan puasa, mengingat bahwa setiap perbuatan kebaikan di bulan ini pahalanya akan ditingkatkan menjadi 70 kali lipat.

Di samping itu, pada momen puasa Rajab ini terdapat hal unik, utamanya di kalangan santri. Mereka memanfaatkan momen ini untuk men-qadai puasa yang bolong pada bulan Ramadan, karena berpuasa pada momen ini, juga dipermudah dengan banyaknya pedagang sekitar pesantren yang rela absen berjualan hanya untuk menghormati para santri yang sedang berpuasa. Para santri  menggabungkan dua niat dalam satu puasa (niat qada’ dan puasa Rajab). Lantas, legalkah hal demikian (menggabungkan niat puasa) dalam Islam, dan bagaimana Islam menyikapinya?. Mari kita ulas.

Baca juga: Kenapa Allah Menciptakan Kita? #1

Sebagaimana jamak diketahui men-qodoi puasa Ramadan hukumnya wajib baik yang disebabkan uzur atau tidak, sedangkan puasa Rajab adalah sunah. Ketika keduanya digabungkan dalam satu ibadah puasa, maka keduanya sama-sama sah. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam kitab al- Asybâh wa an-Nadlôir. Bahwa Imam al-Barizi berfatwa: barang siapa berpuasa di hari Arafah baik karena men-qadai puasa Ramadan, nazar atau kafarat (puasa wajib :red), dan juga disertai niat puasa hari Arafah maka dihukumi sah. Sedangkan puasa Rajab disamakan dengan puasa Arafah.

Ditemukan juga dalam redaksi lain, bahwa Ulama al-Mutaakhirīn berfatwa akan hasilnya pahala puasa Arafah atau puasa sunah lainnya (termasuk puasa Rajab) yang dikolaborasikan dengan puasa fardu, baik Qada’, nazar atau kafarat. (Lihat kitab Fathul-Muin)

Akan tetapi Imam al-Asnawi dengan mengikuti pendapat iman an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ berpendapat bahwa hal itu (penggabungan niat puasa fardu dan sunah) di tolak, beliau berkata; Apabila seseorang berniat men-qadai puasa Ramadan dan puasa Arafah (dalam satu hari) maka keduanya sama-sama tidak sah. Jadi masih terjadi silang pendapat dalam masalah penggabungan niat fardu dan sunah dalam puasa.

Terlepas dari semua perbedaan pendapat ulama, alangkah baiknya kita mengambil jalan tengah yakni tidak condong pada pendapat ulama yang memperbolehkan penggabungan dua niat dalam satu ibadah atau condong pada pendapat ulama yang tidak memperbolehkannya, dengan cara melakukan ibadah puasa seperti biasanya, yakni satu niat satu puasa. Hanya saja kita juga boleh (bahkan lebih baik) melakukan penggabungan niat tersebut jika merasa sulit untuk men-qadai puasa pada hari-hari biasa. kebolehan ini berlaku pada setiap puasa sunah. Dalam artian boleh menggabungkan niat puasa qada’ (wajib) dan puasa sunah apa pun, dan keduanya sama-sama sah.

Masih dalam masalah niat, sangat penting untuk kita ketahui, puasa Qada’ dan kafarat itu tidak sama dengan puasa sunah dalam peletakan niatnya. Apabila puasa sunah cukup melakukan niat sebelum zawal, maka untuk puasa Qada’ dan kafarat berbeda, niat keduanya harus dilakukan pada malam hari atau sebelum fajar, sebagaimana puasa Ramadan. Wassalam.

___

Oleh: Kanzul Hikam

Baca juga: Kenapa Allah Menciptakan Kita? #2

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *