Ketika Hati Dimabuk Asmara

Masih tentang cinta dan segala perihalnya. Entah kenapa, hal yang berkaitan dengan cinta selalu menarik untuk diperbincangkan. Kehawatiran, harapan, kebahagiaan, sakit hati, mabuk asmara, dan lain sebagainya. Pernak-pernik cinta sangat beragam, mulai dari yang merentang di atas neraka hingga terikat erat di pintu surga. Hanya saja kebanyakan cinta yang ada di kalangan remaja saat ini lebih cenderung menjerumuskan pada Jahannam-Nya.

Baca tulisan sebelumnya: Sekelumit Tentang Cinta

Mabuk cinta contohnya. Hal ini biasanya terjadi pada dua belah pihak antara yang mencintai dan yang dicintai. Terkadang kedua belah pihak saling mencintai satu sama lainnya. Namun juga adakalanya gejolak cinta itu bertepuk sebelah tangan.

Orang yang terkena panah asmara ini adalah orang yang paling celaka hidupnya, paling hina, paling gelisah dan paling jauh dari Rabb mereka.

Ibnu Taimiyah berkata: “Mabuk asmara dapat membuat penderitanya kurang akal dan ilmu, rusak agama dan akhlaknya, lalai akan seluruh kebaikan agama dan dunia. Dan akibat buruknya bisa menjadi berlipat ganda”.

Bila penulis contohkan, orang yang dimabuk asmara akan selalu merindukan kekasih hatinya, hingga ia rela melakukan apa saja demi bertemu dengan sang kekasih guna melepas rindu. Apapun itu caranya, tanpa memandang baik dan buruk, rindunya harus segera diobati.

Begitulah…. Kasmaran adalah penyakit kronis yang merusak jiwa dan menghilangkan katentraman. Penyakit ini ibarat lautan berombak yang akan menenggelamkan siapapun yang mengarunginya. Laksana samudra yang tak bertepi. Hampir tidak ada seorangpun yang dapat selamat darinya.

Seorang yang dimabuk asmara akan binasa di tangan orang yang dicintainya. Bahkan seorang raja sekalipun akan menjadi hamba yang hina dihadapan kekasihnya. Jika kekasih hati yang ia cintai memanggilnya, ia akan segera memenuhi panggilan itu. Jika ditanyakan padanya “apa yang engkau harapkan?” maka kekasih yang ia cintai itulah yang menjadi tumpuan dan harapannya. Ia tak akan hidup tenang dan tenteram tanpa kekasihnya.

Selain itu, penyakit ini juga akan menghilangkan rasa malu, padahal malu adalah materi hidupnya hati. Hal itu juga akan berpengaruh pada penyimpangan amal dan hidayah, keadaan yang jelek akan ia anggap baik. Juga akan menimbulkan perangai buruk yang tidak terdapat dalam kejahatan lain. Hingga akhirnya menimbulkan kemurkaan Allah pada dirinya.

Ya begitulah…. Banyak sekali kerugian yang akan kita dapatkan Karena mabuk asmara ini. Jika kita teliti, timbulnya penyakit ini adalah karena perpaling dari Allah. Padahal barangsiapa yang mengenal Allah ia akan senantiasa menautkan hatinya pada-Nya, dan tidak akan mungkin berpaling mencari kekasih selain-Nya.

Penyakit ini juga bisa timbul dari kekosongan hati. Faktanya, tidak mungkin penyakit ini muncul kecuali atas orang yang suka melamun dan menganggur.

Syekh Ibnul Qoyyim berkata: “Perkara yang paling berbahaya bagi seorang hamba adalah kehampaan hati dan jiwa. Karena sesungguhnya jiwa itu tidak akan pernah kosong. Jika tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat pasti akan terisi dengan hal-hal yang membahayakan”.

Akhiran, bagi siapa saja yang telah terjerumus dalam cinta terlarang, hendaklah ia bertaubat kepada Allah, baik dirinya sebagai orang yang mencintai, dicintai, ataupun pihak-pihak lain yang turut membantunya.

Caranya adalah dengan meninggalkannya, jangan menampakkan kepada orang yang dicintai, berusaha melupakannya, tidak menemuinya, dan tidak memandangnya. Serta memutuskan segala bentuk hubungan yang dapat membangkitkan kenangan lamanya.

Jika tidak bisa maka sejatinya Rasulullah telah memberi solusi yang terbaik sebagaimana yang tersirat dalam sabdanya:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ؛ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Wahai para pemuda siapa diantara kalian yang mampu (dalam hal) pembiayaan maka menikahlah. Karena ia dapat menahan pandangan dan menjaga kemaluan dan barang siapa yang belum mampu, hendaknya dia berpuasa karena itu menjadi tameng baginya”. (HR. Bukhari Muslim)

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *