Sekelumit Tentang Cinta

“Cinta”, kata yang tak pernah membosankan untuk dibahas, bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang pasti memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Seperti wanita, harta, anak, keluarga, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya, yang mana kenikmatan dunia ini merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia.

Sejak dulu sastrawan manapun tak ada yang berhasil untuk mematenkan arti dari hakikatcinta. Setiap insan, pasti punya perspektif sendiri saat berusaha mendefinisikan ciinta. Karena cinta adalah perasaan, jadi cukup sulit untuk dituangkan pada bahasa lisan atau tulisan.

Setiap orang pasti pernah merasakancinta, baik itu cinta pada orang tua, saudara, sahabat, teman atau yang lainnya. Namun entah mengapa sangat sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Begitulah ciinta, indah dan mampu menerbangkan siapa saja. Itulah yang tampak dari magiscinta. Tak ada satupun yang dapat mengingkari, apalagi menyangsikan manisnya maducinta. Semuanya sepakat bahwa ciinta adalah ia yang bisa menjadi pelipur lara, ia yang dapat membikin senyuman kembali merekah, dan ia yang sekaligus bisa mengobati hati nan gelisah.

Karena tidak ada definisi yang paten, di sini penulis mengutip definisicinta menurut Syeikh Muhammad Amin al-Kurdi, melalui kitabnnya yang bertajuk Tanwirul Qulub, belia mengatakan: “Setidaknya, ciinta adalah sebuah rasa yang menancap erat di selaput hati orang yang dililitnya, dan condongnya perasaan tersebut pada apa yang dicintainya”.  Jadi intinya, semua hal yang bermuara dari perasaan, dan berujung pada perasaan, itulah agaknya yang dinamakan cinta.

Mengenai tanda-tanda bahwa seorang insan tengah jatuhcinta, dalam kitab Raudhah al-Muhibbin wa Nazhah al-Musytaqin, Syeikh Muhammad bin Abu Bakar bin Ayyub, atau yang lebih akrab dengan lakab Ibnu al-Jauzi menjelenterekkan, bahwa setiap insan yang tengah dilanda asmara akan mendulang setumpuk tanda. Dan di setiap tanda, akan memastikan seberapa kuat cinta merekat, sebetapa hebat cinta melekat. Selain itu, orang-orang akan dengan gampang mendiagnosa bahwa ia sedang kasmaran. Adapun di antara tanda-tanda ciinta yang benar ialah, bibirnya selalu basah dengan nama si kekasih, samanya kehendak hati antara dua sejoli, dan berusaha mencintai apa-apa yang dicintai oleh kekasihnya, toh meski yang demikian berat dilakukannya.

Agama Islam sendiri memandang rasacinta terhadap sesama manusia adalah suatu fitrah dan wajar terjadi. Yang mana ciinta tersebut dapat diwujudkan dengan saling tolong menolong dan menjalin suilaturahmi. Dengan catatan Islam tidak membolehkan umatnya untuk menyalahgunakancinta untuk hal-hal yang dilarang dalam agama. Misalnya fenomena pacaran sebelum nikah yang sudah menjadi budaya masyarakat saat ini, yakni cinta yang semestinya dapat muncul apabila seseorang menikah dan berumah tangga atas dasar cintakepada Allah SWT.

Lebih dari itu, cinta yang terkadang juga diselimuti nafsu justru dapat mengakibatkan hal yang tidak baik dan dapat menjerumuskan pelakunya dalam perbuatan zina, —nauzdu bil-Lah min dzalik–. Karena itu, agar dapat menghindari hal tersebut maka sebaiknya seorang senantiasa mencintai Allah SWT diatas cintalainnya, karena cinta inilah yang akan membentenginya dari segala perbuatan maksiat. Artinya, cinta yang paling benar adanya adalah cintakepada Allah SWT.

Oleh karenanya, sebesar apa pun cinta pada makhluk jangan sampai mengalahkan ciinta kita pada Allah, karena sejatinya cintapada sesama makhluk hanya cinta semu belaka. Hal ini sebagaimana yang Rasulullah sabdakan: “Hiduplah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan berpisah. Berbuatlah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan bertemu dengan-Nya.”

Jika melirik sejarah cinta Rab’iah al-Adawiyah kita akan menemukan bahwa cintanya kepada Sang Pencipta telah meluruskan dan meningkatkan jalan para sufi dalam beribadah kepada Allah karena takut neraka dan mengharap surga menjadi beribadah karena cinta kepada Allah semata. Suatu hari Rab’iah berjalan membawa obor di sebelah tangannya dan air di tangan yang lainnya. Para sufi bertanya kepadanya: “Hai perempuan yang anti dunia, kemana engkau akan pergi?. Dan apa makna tindakan ini?”. ”Aku akan menyalakan api di dalam surga dan menyiramkan air ke dalam neraka, hingga tersingkaplah tabir yang menutup jalan orang-orang yang menuju kepada Allah”, jawab Rabi’ah. Sungguh bila cinta sudah sampai pada hakikatnya, tak ada alasan lain yang melandasi pekerjaan sang pecinta kecuali hanya ingin mendapat rida dari yang dicintainya.

_____

Oleh: Kanzul Hikam

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *