Perbudakan Menurut Kacamata Islam

Perbudakan adalah suatu kondisi di saat terjadi pengontrolan terhadap seseorang oleh orang lain. Perbudakan biasanya terjadi untuk memenuhi keperluan akan buruh atau kegiatan seksual. Para budak adalah golongan manusia yang dimiliki oleh seorang tuan, bekerja tanpa gaji dan tidak mempunyai hak asasi manusia. (Wikipedia)

Baca juga: Tanda Hati yang Buta

Mengenai adanya perbudakan dalam Islam Syaikh Abdullah Bin Abdurrahman Ali Bassam berkata, “Beberapa musuh Islam mencela keras pelegalan perbudakan dalam Syari’at Islam, yang menurut pandangan mereka termasuk tindakan biadab…”. Padahal perbudakan bukan hanya ada dalam Islam, bahkan sejak dahulu telah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Termasuk Bangsa Persia, Romawi, Babilonia, dan Yunani. Dan para tokoh Yunani, seperti Plato dan Aristoteles pun hanya mendiamkan tindakan ini. (Taisirul-Allam Syarh Umdatul-Ahkam)

Sebelum membahas lebih dalam, perlu diketahui bahwa al-Quran diturunkan bukan untuk melanggengkan perbudakan, melainkan untuk menghapusnya dari permukaan bumi. Misi al-Quran sebenarnya adalah menyamakan kedudukan para budak dengan orang merdeka dengan cara memerdekakannya.

Sedangkan dicantumkannya ayat perbudakan dalam al-Quran adalah bentuk dari sikap al-Quran terhadap mereka yang masih berstatus budak. Meskipun Islam tidak menginginkan perbudakan, tapi al-Quran tidak serta-merta mengabaikan budak. Al-Quran juga memperhatikan budak selagi mereka berstatus Islam.

Sebagai buktinya, Allah telah menjanjikan balasan yang amat besar bagi orang yang memerdekakan budak, sebagaimana Hadis Nabi:

مَنْ أَعْتَقَ رَقَبَةً مُؤْمِنَةً أَعْتَقَ الله بِكُلِّ عُضْوٍ مِنْهُ عُضْوًا مِنَ النَّارِ حَتَّى يُعْتِقَ فَرْجَهُ بِفَرْجِهِ

“Barang siapa membebaskan budak yang muslim niscaya Allah akan membebaskan setiap anggota badannya dengan sebab anggota badan budak tersebut, sehingga kemaluan dengan kemaluannya.” (HR. Bukhari)

Sedangkan bukti bahwa Islam kurang menyetujui perbudakan bisa kita temukan dari berbagai misi Islam untuk memerdekan budak. Allah Ta’ala berfirman:

 فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ  وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ  فَكُّ رَقَبَةٍ

“Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar? Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan.” (QS. al-Balad: 11-13)

Selain itu, banyak kita temukan dalam ajaran Islam berbagai kafarah (tebusan) dalam suatu kesalahan atau pelanggaran dengan membebaskan budak, seperti ayat al-Quran berikut:

وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ اَنْ يَقُتَلَ مُؤْمِناً اِلَّاخَطَاءً وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَاءً فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ وَدِيَّةٌ مُسَلَّمَةٌ اِلَى اَهْلِهِ اِلَّا اَنْ يَصَّدَّقُوْا

“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin, kecuali (membunuh) salah, dan barang siapa membunuh seorang mukmin (dengan) salah, maka (wajiblah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat yang di serahkan kepada keluarganya kecuali jika keluarganya bersedekah” (QS an-Nisa’ [4]; 92).

Sanksi untuk memerdekakan budak juga dapat kita temukan dalam beberapa masalah seperti zihar:

وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ۚ ذَٰلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS al-Mujadalah [58]:3-4).

Baca juga: Jangan ikut Mengatur!

Membatalkan sumpah:

لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ ۖ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak.” (QS al-Maidah [5]:89),

Bersetubuh di siang hari Ramadhan bagi yang wajib berpuasa:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: هَلَكْتُ، وَقَعْتُ عَلَى أَهْلِي فِي رَمَضَانَ، قَالَ: أَعْتِقْ رَقَبَةً  قَالَ: لَيْسَ لِي، قَالَ: فَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ: لاَ أَسْتَطِيعُ، قَالَ: فَأَطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا

Abu Hurairah meriwayatkan, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah lantas berkata, “Celakalah aku! Aku mencampuri istriku (siang hari) di bulan Ramadhan.” Beliau bersabda, “Merdekakanlah seorang hamba sahaya perempuan.”

Dijawab oleh laki-laki itu, “Aku tidak mampu.” Beliau kembali bersabda, “Berpuasalah selama dua bulan berturut-turut.” Dijawab lagi oleh laki-laki itu, “Aku tak mampu.” Beliau kembali bersabda, “Berikanlah makanan kepada enam puluh orang miskin,” (HR Bukhari).

Dari beberapa sanksi tersebut dapat kita pahami bahwa Islam berusaha keras untuk menyamakan kedudukan manusia. Dengan adanya sanksi-sanksi yang telah disebutkan, peluang para budak untuk merdeka semakin besar.

Tidak hanya itu, ketika ada seorang budak yang meminta kebebasan kepada tuannya dengan membayar dirinya (mukatabah) maka wajib bagi tuannya mengabulkan permintaan budaknya yang ingin merdeka dengan mukatabah.

Baca juga: Menelisik Kesakralan “La Ilaha Illallah”

Syaikh Abdullah Al-Jibrin Rahimahullahu berkata dalam kitab Ibhajul-Mu’minin Syarh Manhajus-Salikin, “Jika seseorang budak meminta (mukatabah) dari tuannya, maka wajib baginya mengabulkannya, Allah berfirman dalam surat an-Nuur ayat 33, “…Dan budak-budak yang kamu miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka…”

Baca juga: NU Garis Lurus atau NU Garis Kaku?

Syekh Ibnu Ujaibah al-Hasani menjelaskan dalam kitabnya al-Bahru al-Madid fi Tafsiril-Quran al-Majid bahwa Allah memerintahkan orang Muslim yang membunuh Muslim yang lain secara tidak sengaja untuk ‘menghidupkan’ orang lain sebagai ganti dari orang yang terbunuh, dengan cara mengeluarkannya dari ‘hinanya perbudakan’.

Begitu hinanya perbudakan di mata islam, sampai-sampai kemerdekaan disetingkatkan dengan kehidupan. Memang dalam Islam ada istilah perbudakan, namun Islam sendiri sebenarnya ingin menghapus perbudakan dari muka bumi berdasarkan uraian penulis di atas. Semoga bermanfaat!

_____

Oleh: Kanzul Hikam

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *