Tanda Hati yang Buta

Kelalaian untuk melaksanakan kewajiban yang di amanatkan kepada seorang hamba, membuktikan butanya mata hati

_

 اِجْتِــهادُكَ فيــمَا ضُمنَ لكَ وتقـْصِيرُكَ فيــماَ طُـلـبَ منكَ دَلِــيلٌ على انطِماسِ البَصِــيْرَةِ منـكَ 

 “Kesungguhanmu untuk mencapai apa-apa yang telah dijamin pasti akan sampai kepadamu, serta kelalaianmu melaksanakan kewajiban yang di amanatkan kepadamu, membuktikan butanya mata hati-mu”

Assalamualaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh

Alhamdulillah, kita jumpa lagi di rubrik “Ngaji Hikamedisi 5. Kali ini kita akan membahas kalam hikmah kelima dalam kitab al-Hikam karya syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari. Dalam kalam hikmah kelima ini, beliau menjelaskan bahwa kebutuhan kita yang esensial telah disediakan oleh Allah yang Maha Kaya. Seseorang tidak perlu berjibaku dan kelelahan hingga lupa daratan, hingga menabrak batas-batas syariat-Nya untuk meraih keinginannya. Apa sebab?

  1. Karena sejatinya hasilnya pasti nihil dan sia-sia. Yang akan terjadi tetap sesuatu yang digariskan Allah dalam takdir-Nya. 
  2. Lebih parahnya lagi, bila terdapat perasaan bahwa kita punya kemampuan mewujudkan keinginan sendiri.  Tentu hal ini bertentangan dengan ungkapan yang sering kita baca dalam sholat dan dzikir:     لا شريك لــه   (tiada sekutu bagi-Nya).  Dengan adanya perasaan demikian secara tidak langsung kita telah menjadikan diri kita sendiri sebagai rival Allah yang Maha Segalanya. Sungguh kesesatan yang sangat dalam. Kita menobatkan diri menjadi sekutu-Nya? Camkanlah!
Baca juga: Ahlusunah, Kenapa Asy’ariyah dan Maturidiyah?

Jadi, seorang mukmin yang hendak meningkat status kehambaannya harus abai terhadap gejolak nafsu yang memaksa untuk memenuhi hasrat egonya. Dengan kata lain, kemampuannya harus digunakan untuk melaksanakan perintah majikannya (Allah). Kesadaran bahwa Allah adalah Tuhan Pengatur alam, harus senantiasa ditanamkan dalam hati. Logika sehat pasti berkata, bila Sang Penguasa senang, tentulah hamba-Nya akan terjamin (kebahagiaannya).  Kesimpulannya, yang seharusnya dilakukan oleh seorang hamba bukanlah mengejar apa yang diinginkan, melainkan mengerahkan segenap usaha dan upayanya untuk membuat Allah senang, yakni berkhidmat kepada-Nya.

Dengan ungkapan yang jitu, Syekh Ibnu ‘Athaillah mengingatkan kita, bahwa orang yang hanya mengejar keinginannya, disertai melalaikan kewajiban yang dituntut oleh Yang Maha Kuasa, menjadi tanda orang tersebut ‘buta mata hati-nya’. Padahal jaminan yang diberikan Allah ketika kita melaksanakan perintah-Nya sudah pasti dan cukup.

Baca juga: Ketika Doa Tak Kunjung di-Ijabahi

Namun demikian, watak manusia selalu merasa kurang dengan apa yang dimiliki, sehingga yang senantiasa dirasakan adalah kekurangan, baik makanan, pakaian, maupun tempat tinggal. Menyikapi hal ini diperlukan pikiran yang jernih dengan ukuran barometer yang akurat untuk menilai bahwa kebutuhan kita telah dicukupi atau tidak. Dalam hal ini, yang biasanya membuat diri merasa kurang adalah kita membandingkan kehidupan kita dengan tetangga sekitar yang memiliki lebih dari apa yang kita punya.

Jika memang ingin membandingkan maka bandingkanlah dengan orang yang lebih miskin dari kita. Atau bandingkan dengan orang yang fisiknya lebih lemah. Atau bandingkan dengan orang yang keadaan keluarganya lebih berantakan.  Dengan cara ini kita akan merasa bersyukur, ternyata Allah masih menghamparkan rahmat-Nya pada diri ini.

Baca juga: Mengubah Suratan Takdir, Mungkinkah?

Dari uraian penulis di atas dapat dikonklusikan, masih sangat realistis manakala kita mengejar duniawi dengan sekuat tenaga, tapi tidak sampai melepas ikatan takdir. Dengan artian senantiasa bertawakal kepada Allah. Cara pengaplikasiannya, setiap kita memulai bertindak awalilah dengan bacaan basmalah, lebih sempurna lagi jika dilanjutkan dengan membaca tasbih, tahmid dan dzikir lainnya. Bila demikian maka amal kita akan menjadi amal akhirat. Sekalipun secara dzahir yang kita kerjakan berbentuk amalan dunia tapi disana mengandung pekerjaan yang menjadikannya sebagai amal akhirat.

Akhiran, mari perhatikan kandungan ajaran do’a ini:

اللهم اجعـل الــدنـيـا  فى ايـديـنا  ولا تجعـلـهـا  فى قــلوبنــا   ولا تجعـل  الــدنـيـا اكـبر هـمـنـا ولا مـبـلغ  عـلـمـنا

“ Ya Allah… Jadikanlah dunia berada di tangan kami, bukan berada di hati kami. Dan janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita kami yang terbesar, dan bukan pula tujuan ilmu kami.

Silahkan renungkan kembali kandungan isi doa tersebut. Semoga bermanfaat. Wassalam.

____

Nb: Rubrik ini diasuh oleh Drs. KH. Abd. Wasik Ruham, pengasuh PP. Yassir.

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *