Menelisik Kesakralan “La Ilaha Illallah”

واما معنى هذه الكلمة فلا شك انها محتوية على نفي واثبات

“Tidak diragukan bahwa makna lafadz ini (La Ilaha Illallah) mengandung dua unsur yang berlawanan, yakni Nafi dan Itsbat”

Imam as-Sanusi dalam kitabnya Ummul Barahin menguraikan kalimat “La Ilaha Illallah” secara detail agar dapat memahamkan kita akan hikmah yang terpendam dalam kalimat ini. Karena orang yang mengucapkan kalimat ini tanpa mengerti maknanya, maka kalimat ini tidak berarti baginya, sebab ia tidak mengenal siapa Allah yang harus disembahnya itu. Sedangkan mengenal Allah wajib bagi setiap orang mukallaf, bahkan menjadi kewajiban pertama. Ibnu Ruslan dalam al-Zubad berkata; awal kewajiban bagi manusia adalah mengenal Allah dengan penuh keyakinan.

Bermula dari ta’bir di atas, dalam kitabnya ad-Dasuqi Ala Ummil-Barahin, Imam as-Sanusi menjelaskan, bahwa terkandung dua unsur berlawanan yang berpadu sekaligus dalam kalimat ini. Pertama; Nafi (mentiadakan), faktor yang ditiadakan disini adalah semua person hakikat tuhan selain Allah. Kedua; Isbat (menetapkan), yang ditetapkan adalah person tunggal yaitu Allah yang Maha Esa. Intinya tidak akan ditemukan bahkan mustahil jika ada tuhan selain Allah, baik secara akal ataupun syara’.

Baca juga: Sudahkah Anda Mengenal Allah?

Sedangkan dari keuniversalan “La Ilaha Illallah”  menimbulkan dua makna. 1. Tak ada tuhan yang disembah dengan benar dalam realitasnya kecuali Allah. 2. Allah tidak butuh pada pada setiap sesuatu selain dzat-Nya, dan selain Allah pasti butuh pada-Nya. Menurut imam as-Sanusi, makna yang kedua ini lebih jelas dan baik daripada yang pertama. Karena tidak ada yang berhak disembah kecuali Dzat itu tidak butuh pada selainnya dan selainnya butuh pada Dzat-Nya.

Dari saking dahsyatnya kalimat ini, seluruh Aqaidil iman telah terangkum di bawah naungannya, sebab dari kedua makna di muka dapat dikonklusikan bahwa Allah wajib memiliki sifat yang duapuluh.

“Ketahuilah, orang yang mengucapkan atau mengetahui kalimat “La Ilaha Illallah” di akhir hayatnya, maka ia dijamin masuk surga”

Kita mulai dari “Allah tidak butuh pada pada setiap sesuatu selain Dzat-Nya”. Dari makna ini wajiblah bagi Allah sifat Wujud, Qidam, Baqo’, Mukholafatu lilhawadis, Qiyamuhu binafsihi, dan terlepas dari kekurangan apapun. begitu juga sifat Sama’, Basar dan Kalam. sebab bila sifat-sifat ini tidak terdapat pada Allah, maka Allah butuh pada subyek yang lain yang menciptakannya, tempat atau subyek penyelamat dari kekurangan-kekurangan itu. Padahal Allah tidak pernah membutuhkan pada yang lainnya.

juga timbul dari hal yang sama, dapat kita pahami bahwa Allah terbebas dari setiap tujuan atau maksud. Demikian pula Allah tidak wajib mengerjakan atau meninggalkan hal apapun.

sedangkan yang terpendam dalam dari kalimat “Selain Allah pasti butuh pada-Nya” adalah wajibnya sifat Hayat, Qudrat, Iradat dan Ilmu bagi Allah secara absolut, sebab bila salah satu dari sifat-sifat tersebut tidak terdapat pada Allah, maka tidak akan ada segala bentuk penciptaan di  jagat raya ini. Jika demikian tentu tidak akan ada yang butuh kepada Allah.

Walhasil, sempurnalah Allah dengan sebuah kalimat yang hanya tersusun dari beberapa huruf ini. Ketahuilah, orang yang mengucapkan atau mengetahui kalimat “La Ilaha Illallah” di akhir hayatnya, maka ia dijamin masuk surga dengan catatan dia meyakini maknanya dengan benar. Semoga kalimat mulia ini selalu tertanam dalam lubuk hati kita hingga kita bertemu dengan Allah Yang Maha Segalanya. Amin.

______

Oleh: Kanzul Hikam

Baca juga: Jangan ikut Mengatur!

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *