Legalitas Mempelajari Ilmu Kalam

Ilmu kalam dalam bahasa Arab biasa diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang Allah dan sifat-sifat-Nya. Oleh sebab itu ilmu kalam biasa disebut juga sebagai ilmu ushuluddin atau ilmu tauhid, yakni ilmu yang membahas tentang penetapan aqaiddiniyah (akidah-akidah agama) dengan dalil (petunjuk) yang kongkrit.

Ilmu kalam secara etimologi adalah pengetahuan tentang hakikat tunggal sesuatu. Secara terminologi adalah ilmu tentang akidah yang diambil dari dalil-dalil yakin. Ibnu Khaldun dan Imam al-Ghozali mendefinisikannya sebagai disiplin ilmu yang mengandung berbagai argumentasi tentang akidah imani yang diperkuat dalil-dalil rasional.

Sedangkan Al-Farabi mendefinisikannya sebagai disiplin ilmu yang membahas Dzat dan sifat Allah beserta eksistensi semua yang mungkin, mulai yang berkenaan dengan masalah dunia sampai masalah sesudah mati yang berlandaskan doktrin Islam.

Melihat dari kedua definisi tersebut ilmu kalam bisa juga didefenisikan sebagai ilmu yang membahas berbagai masalah ketuhanan dengan menggunakan argumentasi logika atau filsafat.

Mengenai ilmu kalam ulama berbeda pendapat dalam legalitas pempelajari ilmu ini, alasan beberapa ulama yang menolak ilmu ini adalah karena ‘trauma’ dengan ilmu filsafat. Karena secara garis besar, pokok keyakinan para ahli filsuf klasik tidak lepas dari:

  1. Alam qadim
  2. Para filsuf derajatnya lebih tinggi dari Nabi
  3. Tidak percaya pada hari kebangkitan
  4. Kenikmatan surga dan siksa neraka hanya bersifat rohani bukan fisik.
Baca juga: Membedah Trilogi Tauhid Wahabi

Sehingga para ulama khawatir orang yang mempelajari ilmu kalam akan terjerumus ke lembah kesesatan sebagaimana Qadariyah, Muktazilah dll, yang notabene prinsip keilmuan mereka diambil dari ilmu filsafat. Jika meninjau keterangan di atas, jelas mempelajari ilmu yang dapat mengantarkan pada pengertian sebagaimana yang diyakini oleh para filsuf, yang menganut paham filsafat, hukumnya tidak diperbolehkan, seperti ilmu kalam ini. Karena mempunyai keserupaan dengan ilmu filsafat, yakni keduanya sama-sama menggunakan akal dalam peng-istidlalannya.

Namun, perlu diketahui, para filsuf selalu menggunakan akal sebagai tendensi mereka, sehingga ketika ada hal dalam agama yang tidak masuk akal akan mereka tolak, mereka baru akan mengimani jika masuk akal. Berbeda dengan ulama Mutakallimin yang menempatkan teks agama (al-Quran dan Hadis) di atas logika, sehinga ketika ada sesuatu yang tidak masuk akal dalam agama maka logika tidak boleh dimenangkan.

Terlepas dari itu semua, Ibnu Khaldun memberi penjelasan mengenai perbedaan ilmu kalam dan filsafat. Perbedaan keduanya dapat ditinjau dari tiga sisi:

  1. Obyek kajian: kajian ilmu filsafat mencakup fisika, sains dan etika. Sedangkan obyek kajian ilmu kalam adalah pokok-pokok agama (Usuluddin).
  2. Metode: Filsafat menggunakan akal sebagai tendensi dan membuang semua hal yang tidak masuk akal. Sedangkan ilmu kalam tendensi utamanya adalah naql dan diperkuat dengan istidlal akal.
  3. Tujuan akhir: Tujuan akhir ilmu kalam adalah iman kepada Allah. Sedangkan tujuan akhir ilmu filsafat adalah sesuai dengan logika.

Dari tiga poin ini, kita dapat menyimpulkan bahwa ilmu kalam tidak akan mengantarkan kita pada pengertian seperti yang diyakini oleh para filsuf. Dari sinilah, Imam Nawawi memberi kesimpulan bahwa ilmu kalam adalah bidah yang wajibah. Begitu juga Imam Syafi’i sebagaimana yang dikutip oleh imam az-Zabidi mengatakan, Mutakallimin yang mengaplikasikan ilmu kalam di atas rel agama serta sesuai dengan nash adalah mutakallimin yang hakiki.

__

Oleh Kanzul Hikam

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *