Hukum Bersholawat Al-Banjari di Gereja

Bahtsul Masail Jam’iyah Ta’limiyah Annajah Sampang

Oleh: Mohammad Amiruddin S.pd.*

Assalamualaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh


Pencerahan ajaran Islam kepada masyarakat luas merupakan keniscayaan bagi setiap pengikut Nabi Muhammad SAW sesuai kapasitasnya. Penulis sebagai pengurus dan aktifis Jam’iyah Ta’limiyah Annajah Sampang, merasa perlu untuk mempublikasikan sebagian hasil bahsul masail sesuai kemampuan daya tangkap penulis yang sangat terbatas. Kekurangan dan kesalahan wajar ditemukan oleh pembaca. Maka koreksi amat diperlukan. Tidaklah bijak bila kesalahan didiamkan.

Baca juga: NU Garis Lurus atau NU Garis Kaku?

Membahas hukum bersalawat di gereja sebagaimana persoalan yang ditanyakan seorang anggota, harus diketahui latar belakang, niat, motifasi dan prilakunya. Fenomena yang terjadi, pihak gereja mengundang group salawat untuk meramaikan acara ritual atau lainnya. Kecil kemungkinan, berupa inisiatif sendiri dari group salawat sebagai wahana strategi da’wah terhadap umat kristiani. Namun situasi ini bisa saja diambil sebagai peluang da’wah bila dilakukan secara taktis dengan pendekatan humanis yang halus dan simpatik. Bukankah Rosulullas saw pernah menyuapi seorang yahudi buta bermulut kotor, selalu melontarkan makian dan hinaan kepada Rasulullah!

pertanyaan (masalah) : Marak diberitakan, bahwa sekelompok anak muda muslim bersholawat diiringi rebana di gereja dengan dalih toleransi. Bagaimanakah hukumnya bersholawat diiringi rebana di Gereja?

Baca juga: Hukum Bersalawat Diiringi Rebana

Jawaban: Hukum tema persoalan ini mesti dicermati illatnya. bisa saja dihukumi mubah, bahkan mustahab manakala niatnya untuk berda’wah, disertai ada ucapan/ tindakan yang taktis sebagai qorinah yang menguatkan niatnya tsb. Juga bisa menjadi haram, bahkan murtad, manakala hatinya rido ( senang) pada situasi kekafiran. Apalagi mendapatkan bayaran (slabet) lumayan tinggi. Iman yang lemah menjadi terlena dan hatinya berangsur condong menghormati kristians. Jargon toleransi menjadi absah sebagai tempat persembunyian yang rapi.

Alhasil ketentuan hukumnya mengikuti illat obyektif yang ada pada niat pelakunya, serta ditunjukkan dengan ucapan/ tindakan positif. Jangan lupa bahwa keteguhan niat seseorang , berbanding lurus dengan kekuatan imannya.

Perhatikanlah referensi berikut :

1. Is’adur Rofiq hal 127 juz 2 :

  ومنها (الإعانة على المعصية) على معصبة على معاصي الله بقول او فعل او غيره ثم ان كانت المعصية كانت الإعانة عليها كذلك كما في الزواجر.

Baca juga: Kemauan Kita Tidak Bisa Menembus Dinding Takdir

Artinya : Sebagian dari maksiat badan adalah menolong orang lain dalam berbuat dan berbagai maksiat kepada Allah baik berupa ucapan, perbuatan atau yang lainnya. Kemudian apabila maksiat itu berupa dosa besar maka menolong hal tersebut juga termasuk dosa besar sebagaimana yang tertera dalam kitab Zawajir.

2. Hasyiyah Qalyubi Hal 455 :

وَأَمَّا خِدْمَةُ الْمُسْلِمِ لِلْكَافِرِ فَحَرَامٌ مُطْلَقًا سَوَاءٌ بِعَقْدٍ أَوْ بِغَيْرِ عَقْدٍ

Artinya : Adapun seorang muslim melayani orang kafir, hukumnya haram secara mutlak. baik dengan akad atau tanpa akad.

3. Ibarat yang terdapat dalam kitab
البحر الرائق الجزء الثامن صحـ : 231 مكتبة دار الكتاب الإسلامى

وَلَوْ أَجَّرَ الْمُسْلِمُ نَفْسَهُ لِذِمِّيٍّ لِيَعْمَلَ فِي الْكَنِيسَةِ فَلاَ بَأْسَ بِهِ وَفِي الذَّخِيرَةِ إذَا دَخَلَ يَهُودِيٌّ الْحَمَّامَ هَلْ يُبَاحُ لِلْخَادِمِ الْمُسْلِمِ أَنْ يَخْدُمَهُ قَالَ إنْ خَدَمَهُ طَمَعًا فِي فُلُوسِهِ فَلاَ بَأْسَ بِهِ وَإِنْ خَدَمَهُ تَعْظِيمًا لَهُ يُنْظَرُ إنْ فَعَلَ ذَلِكَ لِيُمِيلَ قَلْبَهُ إلَى اْلإِسْلاَمِ فَلاَ بَأْسَ بِهِ وَإِنْ فَعَلَهُ تَعْظِيمًا لَهُ كُرِهَ ذَلِكَ

Baca juga: Sudahkah Anda Mengenal Allah?

Artinya : Bila seorang Muslim menjadi kuli pada kafir dzimmi untuk bekerja di gerejaـ maka tidak apa-apa. Tersebut di kitab ad Dakhirah : Apabila seorang yahudi memasuki kamar mandi, apakah boleh pembantu muslim melayaninya ? Apabila melayaninya semata2 mengharap bayaran tidak mengapa. Dan bila melayaninya sebagai penghotmatan, maka dipetinci :

Bila melayani agar si yahudi condong hatinya kepada Islam, maka tak apa2. Dan jika melayani sebagai penghormatan padanya, hukumnya makruh.

Kesimpulan :

# bersalawat banjari di gereja mubah bila niatnya da’wah Islam disertai ekspresi perkataan dan prilaku bernuansa da’wah. Dan bila pengaruhnya kuat jadi meningkat pada hukum mustahab.

# Bersalawat banjari di gereja semata- mata ingin mendapatkan bayaran, atau sekedar memenuhi undangan, hukumnya makruh.

# Bersalawat banjari di gereja, bila niat membantu meramaikan acara gereja, baik dibayar atau tidak, maka haram hukumnya.

# Dan bila hatinya rido, bangga atau condong pada suasana acara kristian, maka hukumnya kafir. Na’udzu billah.

Wa Allahu a’lam bis- shawab.

*Penulis adalah wakil sekretaris Jam’iyah Ta’limiyah Annajah Sampang

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *