Kemauan Kita Tidak Bisa Menembus Dinding Takdir

Oleh: Abd. Wasik Ruham*

سَـوَ ابِـقُ الْهِمَمِ لاَ تَخـْرِقُ أَسْوَارَ اْلأَقْدَارِ

 “Kerasnya himmah (kemauan / cita-cita) tidak dapat menembus pagar takdir”

Assalamualaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh

Kembali lagi di Ngaji Hikam pekan ini, kali ini kita akan membahas mengenai kalam hikmah ke-tiga (yang ditulis di atas) dalam kitab al-Hikam, karya monumental Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari. Sekilas kalam hikmah di atas menjelaskan bahwa himmah (kemauan) seseorang tidak dapat menembus dinding takdir, benarkah demikian? Bagaimana maksud dari kalam hikmah tersebut? Mari kita simak penjelasan di bawah ini.

Sejatinya kemauan seseorang, tidak berpengaruh sedikitpun kepada takdir Allah, sekalipun disertai dengan usaha yang keras dan sistematis serta do’a dan munajat yang khusyu’. Keberhasilan yang dicapai manusia semata-mata mutlak karena ketentuan Allah, bukan karena usahanya. Kemauan yang tercapai tetap merupakan kehendak Allah yang bebas dari pengaruh apapun.

Baca juga: NU Garis Lurus atau NU Garis Kaku?

Sebagaimana masyhur di kalangan ulama bahwa himmah (keinginan) yang terlaksana yang terjadi pada waliyullah disebut karomah. Sedangkan himmah (kemauan) yang berhasil dicapai yang terjadi pada tukang sihir, pesulap, dukun dan orang fasik disebut istidroj. Himmah yang terjadi pada muslim pada umumnya disebut ma’unah (pertolongan dari Allah). Artinya, semuanya tidak dapat menembus apalagi mengubah takdir Allah yang telah ditentukan-Nya, karena itu hanya pertolongan Allah yang diberikan pada kita karena kemurahan-Nya. Namun, sekalipun begitu kita tetap harus berjuang serta terus berbuat kebaikan. Apa sebab?

Pertama,  Manusia tidak akan pernah tahu tentang takdir. Karena takdir sepenuhnya merupakan otoritas Allah SWT, kita hanya perlu berusaha agar Allah menghendaki kita untuk berbuat baik.

Kedua,  Perbuatan baik yang kita lakukan dengan ikhlas itu semata-mata karena memang kita harus taat akan perintah-Nya. Dengan ikhlas itulah Allah akan membalas amal kita berlipatganda karena telah taat pada perintahNya.

Baca juga: NU Garis Lurus atau NU Garis Kaku?

Syekh Nawawi bin Umar al-Bantani, dalam kitabnya Qami’ut-Thughyan menceritakan terkait serangan brutal pasukan mongol pimpinan panglima Hulagu dan Timur Lenk di Baghdad, yang saat itu merupakan pusat khilafah muslim. Baghdad dibumi-hanguskan. Berita besar itu pun sampai ke Mesir, dan didengar oleh Syekh Afifuddin az-Zahid. Mendengar hal itu, beliau resah sehingga dalam munajatnya berkata, “Ya Rab… ! Kenapa terjadi begini: anak-anak dan orang tak berdosa dibunuh, air sungai efrat berwarna merah darah, kitab-kitab mulia menjadi jembatan yang diinjak kuda perang, mushaf al-Quran menjadi  kalung anjing. Suatu ketika, saat tertidur, beliau bermimpi didatangi seseorang seraya memberikan secarik kertas. Di dalamnya tertulis dua bait puisi yang isinya berupa teguran keras atas sikapnya:

دع الاعـتراض فما الامر لك * ولا الحكم فى حركات الفـلك

ولا  تســـئـل الله عن فعلـه *   فمن خــاض لجة بحرهـلك

“Janganlah engkau berpaling dari-Nya, apa gerangan urusanmu?

Dan apa pula keputusanmu tentang perubahan alam ini?

Janganlah kau pertanyakan Allah tentang perbuatan-Nya.

Karena orang yang terjun ke jurang samudera tentulah binasa.”

Dalam cerita si atas, syekh Afifuddin az-Zahid seakan tidak rela jika pusat pemerintahan Islam kala itu dibumi-hanguskan. Sehingga beliau mendapat teguran dari mimpinya. Dalam mimpinya beliau dilarang untuk mempertanyakan keputusan Allah yang telah terjadi, karena sekuat apapun usaha yang dilakukan (agar pemerintahan Islam tetap tegak), tidak berpengaruh apapun terhadap keputusan (takdir) Allah.

Baca juga: Jadilah Dirimu Sendiri!

Contoh lain, ketika seseorang  berbuat dhalim kepada kita, semisal menyihir. Jika Allah berkehendak sihir tersebut mengenai dan mencelakai kita, tentu kita tidak akan bisa menghindarinya dengan cara apapun, konsekuensinya kita pasti akan merasa sakit. Jika sudah demikian, kita tidakperlu mempertanyakan kenapa Allah menghendaki demikian, karena itu mutlak merupakan kekuasaan dan kehendak Allah. Sikap yang seharusnya kita ambil adalah menerima apa yang telah terjadi, bukan malah menggugat keputusan Allah. Bukankah Rasulullah SAW juga pernah terkena sihir?

Contoh lain lagi, bila seorang ayah sudah berusaha untuk kesuksesan hidup anaknya. Harta, pikiran, dan tenaga ia curahkan demi kemuliaan sang buah hati. Namun gagal, yakni yang terjadi tidak sesuai dengan himmah (keinginan) yang telah diusahakan sekuat tenaga. Lantas, apakah sang ayah mesti stres bahkan stroke? Tidak! Seorang mukmin tidak layak bersikap begitu.  Jika kita buka lembaran sejarah, bukankah Nabi Nuh juga gagal menyelamatkan putranya dari banjir bandang yang melanda kala itu?

Begitu pula sebaliknya, bila keberhasilan menghampiri serta kesuksesan menyapa kita. Apakah layak bagi kita pongah menepuk dada? Tentu tidak! Ingat, Janganlah keberhasilan membuat kita tersesat dan celaka karena sikap angkuh dan sombong . Juga jangan sampai kegagalan dan musibah membuat kita menyalahkan sana-sini hingga berputus-asa dari rahmat Allah atau bahkan mensomasi (menyalahkan) Allah. Sikap demikian adakah manfaatnya bagi kita?

Baca juga: Memperteguh Harapan Kepada Allah

Walhasil, yang harus kita lakukan adalah beriman kepada takdir Allah, yang mana hal ini telah dituntut secara hakiki dalam rukun iman, tanpa perlu mempertanyakan konsekuensi yang terjadi, terlepas dari itu baik atau buruk. Sebab, sebenar-benarnya adalah sebagaimana ungkapan kalam hikmah ketiga dalam kitab al-Hikam di atas. Yakni sebesar dan sekuat apapun himmah kita, tetap tidak akan bisa menembus dinding takdir, artinya baik dan buruknya sesuatu itu Allah yang menentukan, bukan kita! Kita hanya perlu berusaha, bukan harus berhasil. Wallahu  a’lam bis-shawab.

_

Nb: Rubrik ini diasuh oleh Abd. Wasik Ruham, pengasuh PP Yassir.

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *