NU Garis Lurus atau NU Garis Kaku?

Oleh: Drs. KH. Abd Wasik Ruham*

Menjelang Muktamar NU ke-33 di Jombang tahun 2015 lalu, muncul fenomena kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai NU Garis Lurus, yang secara radikal berseberangan dengan mayoritas kelompok yang secara dejure memimpin NU. Munculnya fenomena “NU Garis Lurus” ini tentunya mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus.

Mirisnya, kelompok yang mengatasnamakan NU Garis Lurus ini tak segan-segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU seperti KH. Said Aqil Siroj, K.H. Ma’ruf Amin, K.H. Yahya Cholil Staquf dll. tak lepas dari serangan mereka. Cercaan mereka terhadap tokoh NU moderat sama persis dengan saat mencerca kelompok Jaringan Islam Liberal (Ulil Abshar Abdalla, dkk).

Baca juga: Catatan Kelam Sekte Wahabi

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan NU Garis Lurus tersebut? Menurut penulis, sampai sekarang tidak ada yang bisa menjelaskan tentang apa itu yang disebut NU garis lurus. Paling banter mereka menyatakan bahwa NU garis lurus adalah NU yang sesuai dengan NU-nya KH Hasyim Asy’ari. Dengan adanya pernyataan ini tentu secara tidak langsung mereka mengatakan orang yang tidak setuju dengan kelompok mereka adalah NU yang tidak sesuai dengan NU-nya KH. Hasyim Asy’ari dengan kata lain “tidak lurus”. Namun apakah yang demikian ini bisa dianggap benar?

Gerakan ini, awalnya mungkin berupa semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham-faham pemikiran yang mereka anggap sesat seperti pluralisme, sekularisme, liberalisme atau faham “Nusantaraisme”. Yang mana, menurut mereka, faham-faham tersebut tidak boleh ada dalam tubuh NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip-prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam internal NU.

Kehadiran NU Garis Lurus ini tentunya tidak lepas dari peran tersebut, yakni anti-tesa terhadap pemikiran dan prilaku “sesat” menurut mereka. Namun begitu, gerakannya yang terlalu ‘ekstrim kanan’ membuat persoalan kebangsaan dan keagamaan semakin rumit.

Adanya fenomena NU garis lurus secara tidak langsung telah memecah belah NU dan ini merupakan bid’ah di kalangan NU. Pengakuan mereka dengan mengikuti KH. Hasyim Asy’ari mengesankan seakan-seakan mereka saja yang mengikuti Mbah Hasyim, sedangkan yang lain tidak.

Paradigma NU Garis Lurus yang berusaha untuk ‘meluruskan’ NU dari faham-faham yang mereka anggap bengkok ini, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, masalahnya ada pada cara berdakwah mereka.

Jika tidak sepakat dengan pandangan-pandangan KH. Said Aqil Siradj seharusnya dilawan dengan pemikiran pula, bukan dengan cara memecah NU dan membikin kelompok sendiri.

Baca juga: Satu Rasul Empat Madzhab, Kenapa?

Siapa pun yang mau menyerang PBNU, sejatinya sudah difasilitasi, yakni dengan adanya media intelektual seperti Munas, Musywil dan tradisi Bahtsul Masail. Semuanya merupakan mekanisme legal dan bermartabat yang telah menjadi konsensus organisasi. Begitu juga dalam Bahtsul Masail, di sana semua urusan agama (fikih, akhlak, dan Aqidah) dapat dibicarakan secara ilmiyah. Namun, NU Garis Lurus lebih sering su’ul adab (tidak beretika) dan mengabaikan diskusi terbuka di panggung Bahtsul Masail. Bahtsul Masail ini sebenarnya adalah kesempatan mereka untuk duduk bersama dengan seluruh entitas kelompok dan aliran pemikiran yang ada dalam tubuh NU sendiri.

Selain itu, harus kita sadari, bahwa sedari dulu dalam internal NU sendiri memang sering terdapat perbedaan pandangan beberapa tokohnya, seperti ketika KH. As’ad Syamsul Arifin menyatakan mufaraqah terhadap NU-nya KH. Abdurrahman Wahid. Namun, ulama-ulama NU yang arif nan bijak semacam, KH Maimoen Zubair, KH Mustofa Bisri, KH Ma’ruf Amin, dan Habib Lutfi dan lain sebagainya lebih mengedepankan akhlak dan persatuan umat.

Manakala perbedaan sikap dan pemikiran diwujudkan dengan arif dan beretika, amat nyata rahmat yang mengguyur kalangan Nahdliyin khususnya, dan masyarakat Islam umumnya. Namun setajam apapun bentuk perbedaan, tetap terdapat hikmah yang istimewa.

Baca juga: Ketika Doa Tak Kunjung di-Ijabahi

Akhiran, terlepas dari apakah NU Garis Lurus ini memang betul-betul berasal dari kalangan nahdliyyin yang hakiki ataukah sekedar ulah oknum, NU Garis Lurus mesti mengubah gaya dakwahnya yang cenderung ekstrim itu. NU Garis Lurus juga harus bisa memahami bahwa di dalam tubuh NU selalu penuh dinamika. Perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang biasa dan berbeda jalan pemikiran adalah hal yang niscaya. Jika NU Garis Lurus terus bersikukuh dengan strategi kerasnya, maka yang terjadi adalah sebaliknya, mereka justeru menjadi “NU Garis Kaku”. Wassalam.

_

*Pencinta  NU

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *