Sudahkah Anda Mengenal Allah?

Sudah seharusnya bagi kita sebagai seorang muslim, untuk ‘mengenal Allah’. Mengenal Allah merupakan kewajiban pertama bagi setiap orang mukallaf, sebagaimana yang dipaparkan imam Ibnu Ruslan dalam karya monumentalnya, az-Zubad; awal kewajiban bagi manusia adalah mengenal (makrifat) Allah dengan penuh keyakinan.

“Imam Ibnu Ruslan dalam karya monumentalnya, az-Zubad mengatakan; awal kewajiban bagi manusia adalah mengenal (makrifat) Allah dengan penuh keyakinan.”

Yang dimaksudmengenal Allah di sini bukanlah mengetahui hakikat Dzat Allah, karena membayangkan Dzat Allah adalah suatu perkara yang sudah di luar batas kesanggupan akal kita sebagai makhluk Allah. Hanya Allah lah yang mengetahui Dzatnya. Mengetahui Allah bukanlah mengetahui dimana atau kapan Dia berada, karena Allah tidak memiliki kaitan dengan dimensi ruang ataupun waktu. Kewajiban makrifat di sini adalah kita wajib mengetahui sifat-sifat-Nya, baik yang wajib, mustahil dan jaiz. Karena sifat-sifat inilah yang dapat memantapkan hati dan memberi bukti nyata akan keesaan-Nya.

Baca juga: Benarkah Al-Quran Mengalami Perubahan?

Untuk sampai pada makrifat, kita perlu melewati jembatan yang dapat mengantarkan kita pada gerbang makrifat. Jembatan itu adalah Nadzoh. Berpikir dan berangan-angan, pada selain Dzat-Nya, bukan memikirkan Dzat-Nya. Al-Quran telah banyak menjelaskan tentang hal ini, seperti dalam ayat:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

“Kewajiban makrifat di sini adalah kita wajib mengetahui sifat-sifat-Nya, baik yang wajib, mustahil dan jaiz”

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. al-Baqarah: 164).

Dalam ayat lain Allah berfirman:

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: ‘Amatilah apa yang ada di langit dan di bumi. Betapa banyak ayat-ayat (bukti-bukti) dan peringatan yang tidak berguna bagi kaum yang tidak beriman” (QS Yunus: 101)

Dalam sebuah hadits riwayat Abu Nuaim, Tabrani, dan lainnya, Nabi bersabda:

تفكروا في خلق الله ولا تتفكروا في الله، فإنكم لن تَقْدُروا قدْرَه

“Berfikirlah tentang makhluk Allah, janganlah berfikir tentang Allah karena kalian tidak akan sanggup melakukannya.”

Jika ada orang yang mengatakan bahwa Allah tidaklah nyata, tentu ini karena kedangkalan akal mereka. Dzat Allah tidak dapat di ukur berdasarkan barometer akal.

Cukup kita mengimani bahwa Allah itu ada, tanpa harus memikirkan di mana Allah berada dan seperti apa wujud Allah. Yang harus kita pikirkan adalah makhluk yang Allah ciptakan. Logikanya, tidak mungkin jika alam semesta beserta isinya ini terbentuk dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan.

“Jika ada orang yang mengatakan bahwa Allah tidaklah nyata, tentu ini karena kedangkalan akal mereka”

Dalam sebuah riwayat, seorang Arab Baduwi ditanya, “Apakah bukti tentang adanya Allâh Azza wa Jalla?” Dia menjawab, “Subhânallâh (Maha Suci Allâh)! Sesungguhnya kotoran onta menunjukkan adanya onta, bekas telapak kaki menunjukkan adanya perjalanan! Maka langit yang memiliki bintang-bintang, bumi yang memiliki jalan-jalan, lautan yang memiliki ombak-ombak, tidakkah hal itu menunjukkan adanya al-Lathîf (Allâh Yang Maha Baik) al-Khabîr (Maha Mengetahui).”

Baca juga: Memperteguh Harapan Kepada Allah

Kesimpulannya, mengenal Allah bukanlah mengetahui Allah itu seperti apa, Allah ada dimana, sejak kapan Allah ada dan pertanyaan-pertanyaan lain yang seharusnya disematkan pada manusia. Yang dimaksud mengenal Allah adalah kita wajib mengetahui sifat-sifat-Nya, baik yang wajib, mustahil dan jaiz serta berpikir dan berangan-angan pada makhluk-Nya. Jadi, sudahkah anda mengenal Allah?

________

Oleh: Kanzul Hikam

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *