Cara Berjihad dan Menyucikan Diri dari Nafsu

Berjihad dan menyucikan diri dari nafsu adalah hal yang harus dilakukan oleh orang yang ingin bertaqarrub pada sang Kholik. Sebab, sebagaimana yang telah dijelaskan pada tulisan sebelumnya, nafsu merupakan musuh terbesar yang harus dihadapi oleh manusia, karena secara dzatiahnya, nafsu selalu mengarahkan kita pada kejelekan, sebagaimana yang dijelaskan al-Quran:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong pada kejahatan, kecuali nafsu yang di beri rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha pengampun lagi Maha penyayang” (QS Yusuf; 53).

“Secara Dzatiahnya, Nafsu Selalu Mengarahkan Kita Pada Kejelekan”

Baca tulisan sebelumnya: Nafsu, Akan Kau Bawa Kemana aku?

Dalam ayat lain Allah berfirman, “Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, maka ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah. (QS Shad; 26). Oleh karena itu kita jangan selalu mengikuti kemauan nafsu kita, kita harus memeranginya, berjihad melawan nafsu kita.

Salah satu cara jihad yang ampuh untuk melawan nafsu, adalah dengan mengurangi hal-hal mubah secara bertahap. Seperti tidak makan berlebihan dan senantiasa lapar. Karena ketika seorang mukmin terbiasa dengan rasa lapar, maka akan menjauhkan dari sifat kemunafikan dan memperkuat untuk melawan syahwat.

Caranya adalah dengan mengurangi porsi makan secara bertahap. Jika nafsu biasa kenyang dengan 20 kali suapan, cukuplah 18 suapan, setelah itu kurangi menjadi 16 dan seterusnya. Jangan lakukan sekaligus sehingga menyebabkan nafsu kita tidak mau tunduk sama sekali.

Imam Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali menjelaskan, banyak manusia yang terjerumus pada maksiat sebab syahwat perut. Seperti Nabi Adam dan Sayyidatina Hawa yang di keluarkan dari surga, karena keinginan yang mendorong untuk memakan buah yang telah dilarang oleh Allah.

Dalam kenyataannya, perut adalah sumber dari syahwat dan penyakit. Syahwat perut akan mengantarkan pada syahwat kelamin. Yang pada akhirnya, semua mengarah untuk maksiat kepada Allah. 

Tak heran jika dalam sebuah Hadis Rasulullah menjelaskan bahwa puasa dapat mengendalikan hawa nafsu, beliau bersabda, “Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian mampu menikah, maka hendaklah segera menikah, dan barang siapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, sesungguhnya ia bisa menjadi penawar nafsu.”

Imam Fakhruddin ar-Razi, seorang filsuf dan ahli tafsir kebangsaan Iran mengatakan, puasa bisa melahirkan ketaqwaan karena mengandung unsur pengendalian syahwat. Puasa membentengi pelakunya dari perbuatan buruk.

“Puasa bisa melahirkan ketaqwaan karena mengandung unsur pengendalian syahwat”

Selain membiasakan diri dengan keadaan lapar, kita juga harus menyucikan nafsu kita, dengan artian mengerahkan seluruh tenaga untuk melakukan penyucian tersebut. Seperti memaksa nafsu untuk giat dan berusaha keras mengejarkan ketataan, serta tidak mengakui dan merasa puas dengan keberhasilan yang diraih.

Kita juga mesti membaca dan mempelajari literatur-literatur karya para Ulama saleh dan sufi yang membicarakan tentang penyucian hati, beserta biografi orang-orang yang berusaha menyucikan hati dan jiwa.

“Banyak yang terjerumus pada maksiat sebab syahwat (nafsu) perut. Seperti Adam dan Hawa yang dikeluarkan dari surga sebab keinginan untuk memakan buah terlarang”

Setelah mengetahui bahwa Imam Ahmad bin Hambal menghidupkan malam dengan mengerjakan Shalat 300 Rakaat, tidakkah kita malu pada Allah, apa yang bisa di Banggakan dari salat sebelas rakaat, lima rakaat, dua rakaat atau bahkan tidak sama sekali?. Jika kita tidak mampu menjadi seperti mereka, paling tidak kita tahu bahwa kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka.

Baca juga: Jadilah Dirimu Sendiri!

Penulis ingatkan lagi perkataan Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Bushiri yang termaktub dalam kasidah burdah-nya: “Nafsu itu seperti anak kecil, jika dibiarkan akan menetek sampai besar. Namun jika disapih maka ia akan berhenti”.

Dari kutipan syair ini dapat kita pahami bahwa apabila seseorang tidak melatih dirinya sejak dini untuk mengendalikan nafsu, maka nafsu yang akan terus mengendalikannya dan dia terus mengumbar syahwatnya walaupun sudah pada jenjang tua.

Jadi, semua tergantung kemana dan bagaimana kita akan menyetir nafsu, akankah kita menyapihnya atau membiarkannya menetek sampai tumbuh dewasa?

Uraian tentang penyucian nafsu di atas, mengantarkan kita pada suatu kesimpulan. Bahwa menyucikan nafsu sesungguhnya adalah menggerakkannya di atas landasan takwa, merasa diri selalu diawasi Allah, dan bersiap untuk menyambut pertemuan dengan-Nya. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam bis-Sawab

_________

Oleh: Kanzul Hikam

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *