Jadilah Dirimu Sendiri!

“Kebahagiaan dapat diperoleh jika kita hidup sesuai dengan hakikat diri kita masing-masing. Maka dari itu, jadilah dirimu sendiri!”

إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَ ةِ الْخَفِيَّةِ.
وَإِرَادَ تُكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّاكَ فيِ التَّجْريْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ

“Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih menegakkan engkau di dalam maqom asbab, merupakan syahwah yang tersamar (halus). Dan keinginanmu kepada asbab, pada saat Allah sudah menegakkan engkau dalam tajrid, merupakan suatu kejatuhan dari himmah yang tinggi.”

Assalamualaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

Kembali lagi di Ngaji Hikam edisi ke-dua. Kali ini kita akan membahas mengenai kalam hikmah ke-dua (yang ditulis di atas) dalam kitab Hikam, karya monumental Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari.

Baca juga: Tentang Karma

Dalam kalam hikmah ke-dua ini, Ibnu Athaillah as-Sakandari menggunakan beberapa istilah baku dalam khazanah sufi yang harus dipahami terlebih dahulu agar mendapatkan pemahaman yang utuh. Istilah-istilah itu adalah: tajridasbabsyahwat dan himmah.

Tajrid secara bahasa memiliki arti: penanggalan, pelepasan, atau pemurnian. Secara maknawi adalah penanggalan aspek-aspek dunia dari jiwa (nafs), atau secara singkat bisa dikatakan sebagai pemurnian jiwa.

Asbab secara bahasa memiliki arti: sebab-sebab atau sebab-akibat. Secara maknawi adalah status jiwa (nafs) yang sedang Allah tempatkan dalam dunia sebab akibat. Semisal Iskandar Zulkarnain yang Allah tempatkan sebagai raja di dunia.

Syahwah (atau syahwat) secara bahasa memiliki arti: tatapan yang kuat, atau keinginan. Secara maknawi merupakan keinginan kepada bentuk-bentuk material dan duniawi, seperti harta, makanan dan lawan jenis.

Berbeda dari syahwat, hawa-nafsu (disingkat “nafsu”) adalah keinginan kepada bentuk-bentuk non-material, seperti ego, kesombongan, dan harga diri.

Himmah merupakan lawan kata dari syahwat, yang juga memiliki arti keinginan. Namun bila syahwat merupakan keinginan yang rendah, maka himmah adalah keinginan yang tinggi, keinginan menuju Allah.

Setelah memahami istilah-istilah tersebut, mari kita masuk ke pembahasan kalam hikmah di atas. Tajrid dan Asbab merupakan dua kedudukan yang bertingkat, seperti guru dan murid, Ahli Syariat dan Ahli Hakikat, Mursyid dan murid, Ulama dan awam, dosen dan mahasiswa, bos dan karyawan, atau kiai dan santri.

Baca juga: Mengubah Suratan Takdir, Mungkinkah?

Jika demikian, maka keinginan seseorang untuk tampil sebagai guru padahal dia adalah seorang murid maka dia sedang terjebak dalam syahwat yang samar. Menurut Ahli Hikmah, nafsulah yang mendorong seseorang untuk tampil bukan pada kapasitasnya. Contoh mudahnya adalah fenomena yang banyak terjadi di zaman akhir ini, banyak orang yang tidak berilmu tiba-tiba tampil sebagai Ulama atau ustadz, hal ini bisa jadi karena pelakunya sendiri tidak menyadari bahwa dirinya tidak memiliki ilmu, atau yang mengikutinya yang tidak mengetahui terhadap kapasitas keilmuan orang yang diikutinya.

Penulis jadi teringat apa yang dikatakan asy-Syaikh Asy-Syarqawi dalam Syarah Hikamnya:

إقبال الناس على المريد قبل كماله سم قاتل

“Penerimanaan orang-orang atas seorang murid (guru. red) sebelum kearifan (kesempurnaan guru) nya bagaikan racun yang mematikan.”

Baca juga: Cara Berjihad dan Menyucikan Diri dari Nafsu

Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam memilih guru dan menerima pendakwah atau ustadz yang bukan kapasitasnya. Sebab dengan memilih atau menerima pendakwah atau ustadz yang salah, bisa jadi Anda telah meneguk racun yang mematikan. Anda mungkin tidak terbunuh secara dzahir, akan tetapi akidah keyakinan Anda sedang terancam, yang kelak akan menuai penyesalan.

Sebagai contoh lain, adalah kehidupan para Ulama. Setiap hari kegiatan mereka (atau sebagian. red) mungkin  hanya mengurus santri, murid-murid serta jama’ahnya, sehingga tidak ada waktu untuk memikirkan sumber rizki secara lahir.

Namun ternyata kebutuhan hidup mereka tercukupi. Bahkan terkadang melebihi kecukupan hidup orang-orang yang setiap hari sibuk mencari nafkah. Inilah yang disebut dengan maqom tajrid.

Adapun maqom asbab, adalah suatu maqom dimana rizki seseorang tidak didatangkan kecuali melalui sebab-sebab yang diusahakan dan diikhtiari sendiri. Mereka tidak mendapatkan sumber kehidupan kecuali dari jalan ikhtiar yang dilakukan.

Baca juga: Memperteguh Harapan Kepada Allah

Untuk itu mereka harus berikhtiar dan berusaha mencari dan menciptakan peluang sendiri supaya terbuka sebab-sebab baginya untuk mendapatkan rizki hidup. Setelah sebab-sebab itu terwujud, baru ditindaklanjuti dengan amal. Hal itu seperti merupakan keadaan yang dialami kebanyakan manusia.

Dari kedua maqom tersebut, bila seseorang sedang Allah tempatkan dalam kondisi asbab, tapi dia berkeinginan untuk tajrid (misalkan dengan ber-uzlah), maka itu dikatakan sebagai syahwat yang samar.

Sebaliknya, saat Allah menempatkan seseorang dalam maqom tajrid, tapi dia justru ingin menuju maqom asbab, maka itu merupakan sebuah kemerosotan dari Himmah yang tinggi.

Dengan kata lain, kebahagiaan dapat diperoleh jika kita hidup sesuai dengan hakikat diri kita masing-masing. Jika Allah menempatkan kita pada maqom asbab maka kerjakan yang seharusnya kita lakukan, yakni mencari sumber penghasilan hidup.

Begitu juga sebaliknya, jika kita sedang ditempatkan oleh Allah pada maqom tajrid, maka jangan berkeinginan untuk berpindah ke maqom asbab. Intinya, kita bisa bahagia jika kita menjadi diri kita sendiri. “You are going to be happy when you become who you are”.

Mungkin sampai di sini dulu Ngaji Hikam kali ini. Jika kurang memuaskan atau ada yang salah bisa disampaikan di kolom komentar. Silahkan ditunggu untuk Ngaji Hikam selanjutnya. Sekian dari kami, semoga bermanfaat. Wassalam.

________

Oleh: Kanzul Hikam

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *