Jabat Tangan Setelah Salat Bukan Sunnah?

“Dari saking seringnya dilakukan, banyak orang yang berasumsi bahwa berjabat tangan itu ada kaitannya dengan salat”

Di negara kita, Indonesia, jabat tangan atau salaman sudah menjadi tradisi yang mengakar kuat, berjabat tangan kerap dilaksanakan ketika ada even tertentu, seperti ketika hari raya Idul Fitri dan even-even lainya.

Jabat tangan juga kerap dilakukan ketika selesai salat berjamaah. Bagaimanakah sebenarnya hukum berjabat tangan setelah salat. Sebab, dari saking seringnya dilakukan, banyak orang yang berasumsi bahwa berjabat tangan itu ada kaitannya dengan salat, padahal tidak.

Juga ada yang berpersepsi bahwa jabat tangan setelah salat bukanlah sunnah. Tidak hanya itu, bahkan ‘tetangga’ kita (selain Ahlussunnah wal Jamaah. Red) ada yang mengatakan bahwa hal itu adalah bidah. Hal ini tentu memerlukan kajian tersendiri.

Baca juga: Satu Rasul Empat Madzhab, Kenapa?

Dalam pandangan Islam, berjabat tangan bukan hanya sekadar tradisi, melainkan merupakan kesunnahan yang didalamnya terdapat rahasia-rahasia terselubung yang fantastis. Hukumnya pun berbeda-beda tergantung bagaimana, seperti apa dan kapan kita melaksanakannya.

Salah satu rahasia yang terdapat dalam berjabat tangan adalah di ampuninya dosa kedua orang yang berjabat tangan, sebagaimana Hadis Nabi:

عن البراء بن عازب قال قال رسول الله مامن مسلمَينِ يلتقيان فيتصافحان الا غفرلهما قبل ان يتفرقا  رواه ابن ماجه

“Dari Barra’ bin Azib, beliau berkata: Rasulullah SAW berkata: tidak akan di anggap bertemu di antara dua orang muslim, lalu keduanya berjabat tangan kecuali di ampuni dosanya sebelum mereka berdua berpisah” (HR Ibnu Majah)

Dari hadis inilah kemudian muncul hukum sunnah ketika melaksanakannya, dengan catatan kuduanya baru bertemu.

Mengenai jabat tangan setelah salat, dalam kitab Bughyah al-Musytarsyidin dijelaskan, bahwa berjabat tangan setelah salat itu termasuk bidah yang mubah, dan Imam Nawawi menganggapnya sesuatu yang baik. Tetapi hendaknya diperinci, jika sabelum salat sudah bertemu, maka hukumnya mubah, dan jika memang sebelumnya tidak bersama (tidak bertemu), maka di anjurkan untuk ber-salaman setelah shalat.

Baca juga: Nafsu, Akan Kau Bawa Kemana aku?

Sedangkan dalam kitab al-futuhat al-Rabbaniyah, Syekh Hamzah al-Nasyiriy berpendapat bahwa hal itu (bersalaman setelah shalat) disunnahkan secara mutlak, sebab secara hukum salat itu merupakan ke ghaiban, oleh karena itu, secara maknawi orang yang sedang salat dianggap berpisah dengan makhluk dan sedang menghadap pada Sang Maha Kuasa.

Dari penjelasan barusan, mungkin kita sudah mengetahui tentang bagaimana hukum berjabat tangan seusai salat. Jabat tangan bukanlah bagian dari salat. Kesunahan jabat tangan adalah hal baru yang disebabkan bertemu, baik secara dzahir atau maknawi.

_______

Oleh: Kanzul Hikam

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *