Satu Rasul Empat Madzhab, Kenapa?

Pernahkah terpikir kenapa Madzhab fiqih dalam Ahlussunnah wal Jamaah ada empat, padahal Nabi Muhammad SAW datang dengan membawa satu risalah?. Mungkin pertanyaan diatas sudah pernah terbesit di benak kita. Dan saya yakin, para pembaca sudah ada yang tahu tentang ini. Kali ini penulis akan paparkan kenapa para imam mujtahid berbeda pendapat sehingga mereka mendirikan madzhab masing-masing. Simak penjelasannya sampai tuntas.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa selepas perang Khandaq, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah saat Sholat Ashar menyampaikan wahyu kepada beliau  agar beliau dan kaum muslimin bergegas menuju perkampungan Yahudi Bani Quraizhah kemudian segera mungkin meninggalkan Khandaq. Mendapatkan mandat tersebut, Rasulullah memerintah para Sahabat segera pergi ke tempat yang dimaksud seraya bersabda;

Ingatlah, janganlah seorang diantara kalian melaksanakan Salat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah”  (HR. Bukhari )

Sebab sabda Rasulullah tersebut, para Sahabat terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama memahami apa adanya sehingga mereka melaksanankan Salat Ashar di perkampungan Bani Quraizah. Sedangkan yang lain tidak sedemikian, bagi mereka inti dari sabda tersebut agar segera pergi meninggalkan Khandaq. Terkait salat Ashar, bukanlah menjadi inti yang dikehendaki Rasulullah, sehingga mereka shalat ashar di tengah perjalanan, ketika hal tersebut disampaikan kepada Rasulullah, beliau tidak menegur satupun.

Dari peristiwa di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa:

  1. Perbedaan sudah ada sejak zaman Rasulullah dan mungkin akan terus berkesinambungan hingga akhir zaman  karena perbedaan adalah suatu yang niscaya dan pasti akan terjadi
  2. Perbedaan yang terjadi hanya dalam ranah furuiyah, sehingga dari firman Allah dalam QS. al-Anfal : 46 dan ar-Rum: 31-32 tidak bertentangan dengan peristiwa tersebut karena yang dijelaskan dalam al-Quran adalah masalah Ushuluddin (pokok agama)
  3. Perbedaan adalah sebuah rahmat, karena membawa umat pada kemudahan dalam menjalankan tuntutan beragamanya. Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata; “aku tidak suka seandainya para Sahabat Rasulullah tidak berbeda pendapat, sebab seandainya hanya ada satu pendapat, maka manusia berada dalam kesusahan”.
  4. Seandainya  pemahaman teks syara` harus tunggal, tentu Rasulullah akan menegur salah satu dari keduanya. Tapi kenyataannya tidak.

Jadi kesimpulannya perbedan empat Madzhab adalah rahmat dan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Bagaimana tidak, antara Sahabat satu dengan yang lain saja terjadi perbedaan. Apalagi generasi setelahnya, tapi walaupun pendapat mereka berbeda sejatinya tidak ada yang menyimpang dari esensi al-Quran dan Hadis. Dan sangatlah bodoh orang yang berpresepsi bahwa Nabi hanya membawa satu syariat.

Baca juga: Cara Berjihad dan Menyucikan Diri dari Nafsu

Perlu untuk diketahui, para imam mujtahid itu berbeda pendapat bukan karena salah satu pemahaman mereka terhadap al-Quran dan Hadis salah, itu karena Islam tidak mengekang umatnya dalam berfikir, selama itu tidak berupa usuluddin (pokok agama, red) dan tidak menyimpang dari ajaran Islam. Bahkan antara satu imam dengan imam lain ada yang pernah menjalin hubungan guru dan murid.

Adalah imam Syafi’i seorang mujtahid mutlak yang mendirikan madzhab Syafi’i, beliau pernah berguru pada Imam Malik, pendiri madzhab Maliki. Begitu juga Imam Ahmad bin Hambal, pendiri madzhab Hambali pernah menjadi murid Imam Syafi’i. Namun, imam Syafi’i tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat imam Malik, begitu juga dengan imam Ahmad bin Hambal, ada beberapa pemikiran imam Syafi’i yang tidak beliau sepakati, sehingga beliau menggali hukum sendiri.

Yang perlu digaris bawahi di sini adalah perbedaan pendapat mereka hanya dari pengambilan sudut pandang yang berbeda dalam sebuah masalah, sama seperti kasus para sahabat di atas. Tapi perlu dipertegas lagi, perbedaan pendapat yang dikatakan rahmat itu selama tidak ada hujat-menghujat antara satu dengan yang lain. Ini karena Islam mencegah umatnya untuk mencaci satu sama lain sebagaimana yang ditegaskan oleh al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “ (QS. Al Hujuraat :11).

Hikmah yang bisa kita ambil dari perbedaan mujtahid di atas adalah kita tidak perlu takut untuk berbeda pendapat dengan guru, selama di sana tidak ada unsur caci-mencaci. Dan tentunya harus dengan akhlak yang baik, bukan malah bersikukuh dengan pendapat kita sehingga menyalahkan yang disampaikan oleh guru. Semoga bermanfaat! Wassalam.

_______

Oleh: Kanzul Hikam

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *