Memperteguh Harapan Kepada Allah

مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِـمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لَـلِ

“Di antara tanda-tanda orang yang senantiasa bersandar kepada amal-amalnya, adalah menyusutnya harapan ketika terjadi kesalahan”

Maha Esa Allah SWT yang telah menciptakan sistem sebab akibat di dunia ini dengan sangat rapinya. Dengan meneliti sistem sebab akibat tersebut, manusia mampu menemukan berbagai macam penemuan ilmu dan pengetahuan seperti  Ilmu Falak (Astronomi), Ilmu kedokteran, Matematika, Teknologi dan sebagainya.

Namun, di samping itu, perjalanan hukum sebab akibat sering membuat manusia lupa akan kekuasaan Allah. Mereka melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan bahwa akibat akan lahir disebabkan oleh apa yang mereka lakukan, seolah olah Allah tidak ikut campur dalam urusan mereka itu.

Semisal mereka meyakini bahwa akibat dari melakukan amal baik adalah masuk dan kekal di surga selamanya. Dengan penyandaran hukum sebab akibat ini, terkadang manusia menjadi lalai akan peran Allah dalam kehidupanya, sehingga menyebabkan manusia bergantung kepada amalnya dan lupa pada pencipta amal tersebut.

Padahal sejatinya tidak demikian. Dalam kalam hikmah pertamanya di atas, Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari menghimbau kita agar tidak bergantung pada amal perbuatan.

Di dalam syarahnya dijelaskan bahwa ber-i’timad atau bersandar kepada selain Allah (termasuk amal perbuatan, seperti shalat, puasa, haji, zakat, dll) merupakan sifat orang-orang bodoh dan dungu, karena pada hakikatnya, yang pantas dijadikan sandaran hanyalah Allah semata. Tidak ada yang dapat memasukkan kita ke surga kecuali rahmat dan ridha-Nya.

Dalam kitab syarahnya al-Hikam al-Athaiyah, Syekh Ramdan al-Buthi mengawali penjelasan kalam hikmah ini dengan pertanyaan: Adakah bergantung pada amal dianggap terpuji atau tercela? Jawabannya adalah tercela. Itulah sebabnya kita dilarang bergantung pada amal yang kita lakukan.

Di samping itu, pada hakikatnya, yang menggerakkan seseorang untuk beramal adalah Allah. Jadi sangat tidak pantas jika kita bersandar pada amal perbuatan untuk bisa masuk ke surga-Nya, karena sejatinya yang menciptakan segala sesuatu adalah Allah, termasuk amal perbuatan kita. Jadi sangat tidak pantas jika kita bersandar pada makhluk yang notabenenya adalah ciptaan Allah.  

Baca juga: Jabat Tangan Setelah Salat Bukan Sunnah?

Sebaik dan sebanyak apapun amal kita, kita tetap tidak boleh bergantung pada semua itu. Salat, Puasa, Haji, Zakat, dan lain-lain, itu semua tidak akan bisa memasukkan kita ke surga-Nya, kecuali Allah Ridha dan memberi rahmat pada kita.

Dalam Hadis riwayat Imam al-Bukhari dijelaskan:  

“Tak seorangpun yang amalnya memasukkan ia ke dalam surga.” Sahabat bertanya: “Tidak juga Anda, ya Rasul?” Nabi menjawab: “Tidak juga aku. Namun Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku”. (HR. Al-Bukhari)

Dapat kita pahami, bahwa tidak ada satupun amal perbuatan manusia yang memasukkannya ke dalam surga, bahkan amal seorang Nabi pun. Hanya Allah yang berhak memasukkan seorang hamba ke surga dengan rahmat-Nya.

Masalahnya, jika kita tidak boleh bersandar pada amal kita, lantas apa dan bagaimana sikap kita terhadap amal-amal yang kita lakukan? Apa diam saja atau bagaimana? 

Pada dasarnya syari’at menyuruh kita untuk berusaha dan beramal. Sedangkan hakikat melarang kita untuk menyandarkan diri pada amal dan usaha itu, supaya tetap bersandar pada karunia dan rahmat Allah semata.

Jadi, sikap kita adalah melakukan amal-amal itu dengan ikhlas karena Allah, sekaligus berharap balasan dari anugerah-Nya, bukan balasan dari apa yang kita kerjakan. Kita mesti yakin jika balasan itu bukan sebagai upah atas amal yang telah kita tunaikan, tapi semata karena kemurahan dan anugerah-Nya.

Bagaimana kita tahu bahwa kita bergantung pada amal kita?

Ibnu Atha’illah mengatakan: Termasuk tanda bergantung pada amal ialah berkurangnya harapan ketika ada kesalahan. Setiap orang yang bersandar pada amal untuk masuk surga, pasti akan merasa putus asa, ketika ia melakukan dosa. Sebab harapan mereka untuk masuk surga dengan amal perbuatannya telah berkurang atau bahkan sirna.

Dari itu, jika Allah menakdirkan kita melakukan maksiat, sepatutnya kita benar-benar sadar (jangan lalai) dan kita perlu meninggalkan maksiat itu dan bertaubat dan melupakan setelah itu dan berazam tidak akan mengulanginya lagi. Sehingga raja’ kita tidak akan hilang walaupun banyak maksiat yang dilakukan.

Baca juga: Tentang Karma

Lalu, akibat buruk apa yang akan terjadi jika kita mengharap balasan dari amal yang kita lakukan?

Akibatnya adalah, kita akan kehilangan harapan ketika tergelincir pada kesalahan. Artinya ketika kita mengharap balasan dari amal yang kita lakukan dan ternyata kita melakukan kesalahan, seperti terlanjur melakukan maksiat, atau meninggalkan ibadah rutin, kita akan merasa putus asa dan harapan kita kepada Allah akan berkurang. Dan ketika harapan kepada rahmat Allah berkurang maka secara otomatis amal juga akan berkurang sehingga konsekuensinya adalah berhenti beramal.

Sebab itulah, Ibnu Athaillah as-Sakandari mewanti-wanti kita agar tidak bersandar pada amal yang kita kerjakan. Karena selain bukan amal itu yang menyebabkan kita masuk ke surga-Nya, kita akan merasa putus asa dan berhenti beramal ketika terlanjur melakukan maksiat. Mari perkaya diri kita dengan amal kebaikan sebagai jalan mencari ridha Allah Ta’ala. Wassalam.

________

Oleh: Kanzul Hikam

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *