Ketika Doa Tak Kunjung di-Ijabahi

“Jangan ragu terhadap janji Allah. Toh, sekalipun doa kita tidak dikabulkan seketika itu juga, tapi yakinlah, bahwa Allah pasti menepati janjinya.”

Mungkin kita pernah merasakan apa yang kita minta kepada Allah tak kunjung dikabulkan, bahkan sering. Padahal Allah telah berjanji dalam al-Quran, bahwa semua doa pasti dikabulkan. Lantas, apakah Allah berdusta?

Tentu tidak! Doa kita pasti akan di-ijabahi oleh Allah, doa kita seratus persen pasti terkabul, hanya saja kita tidak tahu, dalam bentuk apa wujud terbaik dari terkabulnya doa kita, dan juga kapan doa kita akan terkabul, karena Allah tidak akan mengiyakan, jika permintaan itu tidak baik untuk kehidupan kita. Allah hanya akan memberi sesuatu yang kita butuhkan dan hal itu hanya Allah yang Maha Tau.

Ibarat seorang balita yang melihat tumpukan cabai dihadapannya. Ia pasti menginginkan dan tergiur untuk memakannya, karena ia tidak tahu terhadap efek setelah memakan cabai, sudah menjadi watak seorang bayi melahap segala yang ada dihadapannya.

Jika posisi kita saat itu sebagai orang tua, apakah kita akan membiarkan anak kita untuk memakan cabai yang mereka inginkan? Sudah pasti kita akan melarangnya, karena tidak ingin anak kita sakit. Hanya orang tua bodoh yang membiarkan anaknya memakan cabai.

Baca juga: Jadilah Dirimu Sendiri!

Allah pun demikian, kasih sayang Allah terhadap hambanya sama dengan kasih sayang orang tua pada anaknya, bahkan lebih. Allah tidak akan memberikan sesuatu yang tidak baik untuk kita. Jika memang permintaan kita sudah baik di mata Allah, tanpa berdoa pun Allah pasti akan memberikan seketika itu juga, tidak mungkin Allah menelantarkan hambanya yang beriman.

Hanya saja, kemungkinan, doa yang kita panjatkan timbul dari nafsu yang menuntut kita untuk meminta sesuatu yang ia inginkan, sehingga memaksa kita untuk menyampaikannya pada Yang Maha Kuasa. Tentu saja Allah tidak akan mengamini doa kita, karena Allah tahu, jika yang kita minta tidak timbul melainkan dari hawa nafsu yang bejat, Allah berfirman dalam al-Quran Surah Yusuf, Ayat 53:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53).

Kemungkinan lain ketika doa tak kunjung terkabul adalah, Allah menunda untuk mengabulkannya. Logikanya, mana ada orang tua yang rela memberikan sesuatu yang berbahaya untuk anaknya. Demikian juga Allah, toh sekalipun yang kita minta memang baik, mungkin kita saja yang belum siap untuk menerimanya seketika itu juga, sehingga Allah menunda untuk mengabulkan doa kita.

Baca juga: Memperteguh Harapan Kepada Allah

Dari sini, kita harus banyak merenung, apakah doa kita memang berada pada level kebutuhan primer kita, atau malah yang kita minta adalah sesuatu yang tidak kita butuhkan, yang justru tidak berdampak baik untuk kehidupan kita mendatang.

Kemudian, jika doa yang kita panjatkan memang tidak baik, sudah barang tentu, Allah tidak akan mengabulkannya. Allah justru akan mengabulkan doa kita dalam bentuk lain, yang tentunya jauh lebih baik dan bermanfaat bagi jasmani dan rohani. Semisal dengan menjauhkan mara bahaya dari kehidupan kita atau yang lainnya.

Intinya, ketika doa kita tak kunjung terkabul, kita harus yakin bahwa Allah pasti menepati janjinya, doa kita seratus persen pasti terkabul, hanya saja ada tiga kemungkinan mengenai bagaimana nasib doa yang kita panjatkan kepada Allah. Pertama, doa itu langsung dikabulkan oleh Allah saat itu juga. Kedua, Allah menunda pengabulan doa kita. Ketiga, Allah mengabulkan doa kita dalam bentuk lain, seperti dijauhkan dari keburukan dan yang lainnya.

Hal ini sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah:

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا ». قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

“Tidak ada seorangpun yang berdoa dengan sebuah doa yang tidak ada dosa di dalamnya dan memutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengabulkan salah satu dari tiga perkara: (1) baik dengan disegerakan baginya (pengabulan doanya) di dunia atau, (2) dengan disimpan baginya (pengabulan doanya) di akhirat atau, (3) dengan dijauhkan dari keburukan semisalnya.”

Para shahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kalau begitu kami akan memperbanyak doa?”

Beliau menjawab, “Allah lebih banyak (pengabulan doanya).” (HR. Ahmad)

Baca juga: Mengubah Suratan Takdir, Mungkinkah?

Nah, sampai disini, masih ragu dengan janji Allah?. jika masih ragu, mari kita perhatikan kalam Hikmah Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari dalam magnum opus-nya, yang bertajuk al-Hikam:

لا يُشَكّكَنَّكَ في الوَعْدِ عَدَمُ وُقوعِ المَوْعودِ، وإنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ؛ لِئَلّا يَكونَ ذلِكَ قَدْحاً في بَصيرَتِكَ وإخْماداً لِنُوْرِ سَريرَتِكَ.

“Tidak terlaksananya suatu yang dijanjikan oleh Allah, janganlah sampai membuatmu ragu terhadap jajni Allah itu. Meskipun telah jatuh waktunya. Ini agar tidak mengaburkan bashirah-mu (pandangan mata batin) dan memadamkan nur (cahaya) hatimu”

Bagaimana, sudah jelas?. Jadi begini, dalam kalam hikmah diatas, Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari menjelaskan, bahwa keraguan kita terhadap janji Allah, sesungguhnya adalah tanda dari kelemahan tauhid, sehingga membuat bashirah menjadi buram dan cahaya sirr (rahasia-rahasia) menjadi padam. Keraguan adalah sesuatu yang berbahaya dalam jalan suluk. Dalam kisah Siti Hajar, hal tersebut telah membuat kelahiran Nabi Ishaq tertunda, sebagai sebuah hukuman karena besitan keraguan akan janji Allah. So, jangan ragu!. We will never walk alone.

_______

Penulis: Kanzul Hikam

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *