Mengubah Suratan Takdir, Mungkinkah?

Kita mungkin sering mendengar ungkapan bahwa doa dan usaha bisa mengubah takdir (qadha’). Bukankah sebelum kita lahir Allah telah menentukan seluruh takdir kita, lantas untuk apa kita berdoa jika memang semua takdir kita telah tersusun rapi di Lauhil-Mahfudz.  Bagaimana seharusnya kita memahami pengertian takdir?

Sebelum membahas lebih lanjut, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa dalam pembahasan qadha’ atau takdir ada istilah mubram dan mu‘allaq. Takdir mubram adalah takdir yang tidak bisa berubah sama sekali. Sedangkan yang takdir mu‘allaq adalah takdir yang dikaitkan dengan sesuatu. Jadi ada kemungkinan takdir bisa dirubah jika ketepatan takdir itu adalah takdir mu’allaq.

Baca juga: Nafsu, Akan Kau Bawa Kemana aku?

Contoh mudahnya adalah berdoa minta panjang umur sebagaimana yang biasa dipraktekkan pada malam Nisfyu Sya’ban. Padahal, umur seseorang sudah ditentukan oleh Allah sejak zaman azali, sebelum ia diciptakan, lantas untuk apa kita menggugat keputusan Allah yang sudah mutlak harus terjadi.

Memang Allah telah menetapkan seluruh takdir kita sebelum kita dilahirkan, tapi tidak menutup kemungkinan jika takdir itu bisa diubah. Artinya, sekalipun umur kita telah ditetapkan sejak zaman azali oleh Allah, masih ada kemungkinan doa bisa mengubah takdir atau qadha’ tersebut, yakni jika ketepatan ketentuan umur itu termasuk qadhâ’ mu‘allaq, tapi dengan syarat apabila doa yang dipanjatkan memenuhi syarat-syarat terkabulkannya doa. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

يَمْحُوا اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). (QS. Ar-Rad [13]: 39).

Sedangkan jika ketentuan umur itu ternyata berupa qadhâ’ mubram, maka dengan cara bagaimanapun umur tetap tidak bisa dipanjangkan atau tidak bisa bertambah. Dengan artian doa tersebut tidak bisa mengubah ketentuan umur. Dalam kelanjutan ayat di atas, Allah berfirman:

وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ

Dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab. (QS. Ar-Rad [13]: 39).

“Ummul kitab”dalam ayat ini adalah ilmu Allah yang tidak bisa diubah-ubah. Demikian juga dengan yang dimaksud usaha bisa mengubah takdir. Jika yang diusahakan itu termasuk takdir mu‘allaq maka pasti bisa dirubah.

Baca juga: Jadilah Dirimu Sendiri!

Akan tetapi, meskipun takdir terbagi dua, mu’allaq dan mubram, kita sebagai manusia tidak mengetahui mana takdir mu’allaq dan mana takdir mubram. Oleh karena itu, Ahlusunnah wal Jamaah memandang doa sebagai ikhtiar manusiawi yang tidak boleh ditinggalkan. Ahlusunnah wal Jamaah memandang perlunya ikhtiar dalam segala hal, bukan malah menyerah begitu saja dengan dalil pasrah pada putusan takdir. Maka dari itu, kita dianjurkan berdoa atau berusaha, barangkali yang diharapkan itu termasuk takdir mu‘allaq.

_______

Penulis: Kanzul Hikam

Bagikan ke
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *